Tertarik dengan jeng nila yang pada postingannya pernah menyebutkan bahwa sekarang di Indonesia untuk anak setingkat SMP sudah diajarkan matematika dan pelajaran ilmu pasti lainnya dalam bahasa pengantar: bahasa Inggris. 
Hanya karena sumbangan yang sangat tidak sedikit baru dikucurkan dari sebuah negara besar yang presidennya baru saja mampir kemari. Maka sistem pendidikan di negara ini harus dirubah menjadi ke ’bule – bule – an’. Metoda bilingual utk sekolah2 tertentu mungkin sudah bukan barang baru. Tapi mau dibawa kemana pendidikan di negeri ini ketika pengajaran Matematika dan Fisika harus diajarkan dalam bahasa inggris juga?? *matematika & fisika saja sudah merupakan pelajaran susah – menurut saya – harus diajarkan pula dalam bahasa inggris mulai anak anak SMP* ck...ck....ck
Terus terang mendengar hal tersebut aku sangat setuju dan merasa surprise, *sorry jeng nila, aku meninjaunya dari sisi yang lain* :D berarti dalam pemikiran sederhana ini: negara kita sudah mulai memikirkan pentingnya bahasa Inggris dalam menyongsong era globalisasi, yang mau tidak mau memaksa kita untuk harus 'siap' bersaing dengan negara lain kalau tidak ingin nantinya menjadi penonton di negara sendiri. 
Karena dengan dibukanya perdagangan bebas Asia Pasifik yang dimulai pada 2010 bagi anggotanya (APEC) yang lebih maju dan 2020 bagi anggota yang masih berkembang, nantinya mau tidak mau tenaga kerja asing akan bebas masuk ke Indonesia, jadi apabila SDM kita tidak siap maka SDM kita tidak akan bisa bersaing dengan SDM asing, dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja profesional dalam negeri, dan akibatnya bisa dipastikan SDM kita tidak akan terpakai dan hanya akan menjadi 'TKI' di negeri sendiri. 
Akibat kalah bersaing, untuk posisi profesional dan strategis sudah jelas akan diambil alih oleh tenaga kerja asing yang lebih mumpuni, baik dalam penguasaan bahasa Inggris maupun dalam penguasaan teknologi, karena mereka lebih unggul. 
Satu hal yang perlu di ingat, dalam era perdagangan bebas nanti, jelas bahasa Inggris yang akan dipergunakan dan sangat berperan. Baik dalam hal conversation: percakapan sehari-hari dan juga dalam hal writing: urusan surat menyurat dan segala macam tetek bengek mengenai perjanjian kerja, peraturan kerja, kontrak kerja, guidelines/ petunjuk kerja yang nanti semuanya dalam bahasa Inggris. 
Apalagi kalau perusahaan-perusahaan asing sudah bisa bebas masuk ke Indonesia untuk mengikuti tender-tender besar yang membutuhkan teknologi tinggi, sudah pasti tender/lelang nya akan berstandar international. (sekedar contoh)
Memang seperti jeng nila pernah bilang bahwa untuk mempersiapkannya, harus memperkuat basis sistem terlebih dahulu (guru-guru yang bisa mengajar dalam bahasa inggris harus dipersiapkan terlebih dahulu), baru kemudian diterapkan untuk anak didiknya. Karena bagaimana mau mengajarkan math or physic dalam bahasa inggris sedang gurunya aja bahasa inggrisnya masih belepotan??? sergah jeng nila sewot. 
Setuju dengan pendapat jeng nila, bahwa guru-guru bahasa Inggrisnya yang harus dipersiapkan terlebih dahulu. 
Tapi, menurut pemikiranku juga gak pa pa kalo bisa dimulai dari sekarang, *sambil jalan* walau untuk kondisi ideal belum dapat dikatakan pantas, guru yang masih perlu diberikan tambahan les bahasa inggris tapi sudah diharuskan untuk mengajar. 
Yeah just it, IMHO: ala bisa karena terbiasa atau pasti bisa karena terpaksa dan tak ada pilihan lain. 
Jadi menurut konsep: ala bisa karena terbiasa atau pasti bisa karena terpaksa dan tak ada pilihan lain, maka otak dan jiwa akan bekerja maksimal (tergenjot) *bahasanya*
untuk bisa mengerti dan memahami, dan semakin sering melakukannya maka akan semakin mudah dan terbiasa untuk menangkap dan dimengerti.
Seperti contoh pengalaman kami di sini, menunjukan bahwa betapa pentingnya bahasa Inggris itu untuk diajarkan semenjak dari sekolah menengah. Karena melihat rekans dari negara lain: India, Srilanka, Nepal yang sudah terbiasa menerima proses belajar mengajar dengan bahasa pengantar: bahasa inggris sejak mereka di sekolah menengah. Jadi di kelas mereka lebih unggul hanya karena penguasaan bahasa yang lebih baik. 
Seseorang yang walaupun TOEFL-nya diatas 750 550 tapi kalo tidak terlatih ngomong dan jarang mendengarkan secara langsung pasti akan mengalami kesulitan. Bahkan bisa sedikit stress,
ini banyak terjadi pada mahasiswa Indonesia yang study di luar negeri pada awal-awal kedatangan mereka dahulu. Tidak hanya di India tapi juga mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di negara lain contoh Amerika dan Australia. (pernah baca dimilis)
Jadi, dengan mulai diterapkannya bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah, mulai dari tingkat sekolah menengah pertama. Mudah-mudahan Indonesia akan bisa menyusul ketertinggalannya dari negara lain yang notabene bahasa Inggris juga bukanlah bahasa ibu mereka, seperti India, Malaysia, Singapore, Srilanka dll. 
PS: Di bawah ini ada tulisan yang maksudnya sama seperti diatas, membahas 'a must' or 'depends on' bahasa Inggris dalam sistem pendidikan di Indonesia, dapat googling dari http://nofieiman.com
Sengaja saya copy paste disini agar bisa dibaca sama yang lain, sekalian ngarsip. :)BELAJAR DARI INDIA
Sumber: http://nofieiman.com/repository/belajar-dari-india.pdf
Menjelang akhir tahun 2005 lalu, para petinggi negeri ini berkunjung ke Bangalore untuk bertemu para eksekutif dari software house di sana. Dalam pertemuan tersebut, chairman Infosys menyatakan bahwa kesuksesan mereka diraih berkat penguasaan bahasa inggris yang mumpuni. Penguasaan bahasa inggris tersebut memungkinkan mereka berkomunikasi dengan baik terhadap pasar dan komunitas internasional.
India memang merupakan negara besar dengan jumlah english speaker terbesar kedua di dunia. India juga merupakan negara penghasil software terbesar kedua setelah Amerika dengan nilai ekspor $17 milyar. Diperkirakan, pada tahun 2008 nanti penjualan mereka akan menembus angka $50 milyar. Dari data dan fakta tersebut, ada baiknya kita untuk sedikit mencoba belajar dari India.
Menilik sejarahnya, selepas merdeka dari Inggris, Parlemen India sempat berusaha memilih salah satu indigenous language untuk dikukuhkan sebagai bahasa nasional. Usaha ini sayangnya tidak pernah berhasil mencapai kesepakatan karena tiap-tiap ethnic group berusaha mempromosikan bahasanya masing-masing. Di kemudian hari, ternyata hal ini justru menjadi blessing in disguise.
Sampai saat ini, bahasa inggris memang mendominasi sebagai bahasa percakapan dan komunikasi di seantero dunia. Lebih dari 80% situs web di internet disajikan dalam bahasa inggris. Bahasa terbesar kedua, Jerman, hanya menguasai 1,5% sementara bahasa Jepang hanya menguasai 3,1%. Tercatat pula 60% hingga 85% email yang terkirim dikemas dalam bahasa inggris. Dan satu dari lima orang di muka bumi ini dapat berbahasa inggris, meskipun hanya pada level kompetensi tertentu saja.
Bicara tentang penggunaan bahasa inggris, menguasai bahasa asing bisa sejatinya bersifat “depends on” atau “a must.” Penguasaan bahasa asing bisa bersifat “depends on” ketika pemerintah dapat menyediakan lapangan pekerjaan domestik yang mencukupi. Sebaliknya, ketika peningkatan tenaga kerja melampaui lapangan pekerjaan domestik yang tersedia, maka selayaknya sistem pendidikan kita harus menyiapkan anak didiknya untuk memasuki pasar kerja global. Dalam hal ini, kemampuan berbahasa asing tidak lagi “depends on” melainkan sudah merupakan suatu keharusan (baca: “a must”).
Dari sudut pandang yang berbeda, penguasaan bahasa asing juga dapat dipetakan berdasar derajat kesarjanaan yang berbeda. Misalnya, untuk tingkat pasca-sarjana (S2 dan S3), penguasaan bahasa inggris pada level interaksi yang mumpuni merupakan suatu keharusan. Sementara untuk level S1 ke bawah, penguasaan bahasa inggris secara pasif saja boleh dikatakan cukup. Berbeda dengan lulusan S1, para mahasiswa pasca-sarjana memang dididik untuk menjadi scientist. Sebagai seorang scientist, kemungkinan untuk bergaul dengan peer mereka di luar negeri jauh lebih besar daripada lulusan S1. Mereka mungkin menghabiskan lebih dari separuh working hoursnya dengan komunitas yang memerlukan bahasa inggris sebagai alat komunikasi utama.
Di sisi lain, penguasaan bahasa asing juga terkait dengan strategi pemberdayaan resources yang ada di negeri ini. Kita akan dihadapkan pada pilihan untuk memperkuat hard knowledge atau memperkuat soft skill berupa penguasaan bahasa asing. Sebagai contoh, kita dihadapkan pada pilihan apakah dana yang ada lebih baik digunakan untuk menambah lab fisika/matematika atau meningkatkan jumlah guru bahasa inggris. Tentu saja hal ini bergantung pada pilihan arah pembangunan ekonomi kita. Jika kita lebih mengandalkan pekerjaan yang dioutsource oleh negara-negara maju, tentu penguasaan bahasa inggris adalah mutlak. Sebaliknya, jika kita memprioritaskan kemampuan lokal untuk mengeksploitasi sumberdaya alam di negeri ini, maka hard knowledge menjadi jauh lebih penting. Integrated strategy semacam inilah yang harus dipikirkan ulang oleh para policy maker kita.
Dan terakhir, bagi para public figure yang kolam airnya berada di level internasional, semestinya juga ditunjang oleh penguasaan bahasa asing yang baik dan benar. Harapannya, selain menjalin komunikasi dengan komunitas asing, juga diharapkan dapat ikut memarketingkan Indonesia kendati tidak secara langsung. Sebutlah Anwar Ibrahim atau Dorodjatun Kuntjorojakti yang mampu berbicara inggris dengan baik dan tetap mudah dimengerti.
Ada beberapa solusi untuk merealisasikan wacana tersebut. Langkah pertama adalah melakukan transfer ilmu pengetahuan secara terarah dan berlanjut –dari bahasa asing menjadi bahasa Indonesia- agar iptek terkini dunia lebih mudah diserap oleh orang-orang kita. Diharapkan, orang-orang Indonesia kelak dapat mempunyai akses informasi menuju iptek dunia dan memberikan manfaat terapan pada orang banyak meski belum menguasai bahasa inggris secara baik. Di Amerika misalnya, pekerja iptek yang aktif menambah khazanah iptek manusia hanya 1-2 persen saja dari penduduknya, tetapi hasilnya dinikmati oleh hampir seluruh penduduk Amerika.
Solusi kedua adalah menjadikan bahasa inggris sebagai bahasa primer yang resmi dan mendegradasi bahasa indonesia. Berbeda dengan Malaysia yang menggunakan bahasa inggris sebagai penghubung antara etnik Melayu, Cina, dan India; Indonesia telanjur memilih bahasa melayu (bahasa indonesia) sebagai bahasa penghubung. Dengan demikian, (hampir) mustahil memunculkan bahasa penghubung kedua karena pada prakteknya kita hanya akan memakai satu bahasa. Jika langkah ini diambil, konsekuensinya bahasa indonesia hanya sekadar menjadi bahasa lokal, bahasa gaul anak muda, atau bahasa dalam lirik lagu dan karya sastra lainnya.
Akan tetapi, langkah praktis yang ideal dan lebih masuk akal justru dapat dimulai dari diri kita sendiri. Kita bisa mencoba untuk tidak melewatkan satu hari pun tanpa kegiatan yang bisa meningkatkan kemampuan bahasa inggris kita. By any means. Sebut saja seperti membaca koran/majalah asing, menulis paper, membaca textbook dan jurnal asing, mendengarkan BBC atau VOA, menonton film, mengunjungi English speaking zone, membaca komik Asterix, dan seterusnya. Harapannya, ketika salah satu dari kita kelak tiba-tiba “terpeleset” menjadi public figure (dekan, rektor, duta besar, menteri, gubernur, bupati/walikota, pengusaha, artis, dan sebagainya) kita bisa membawa diri dengan baik dan memukau dalam forum internasional.
Terakhir, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa kita seharusnya tetap bisa memaklumi dan menghargai orang lain yang belum mampu berbicara bahasa inggris dengan baik, mengingat bahasa tersebut bukan native language kita. Kualitas dan kapabilitas seseorang toh tidak melulu hanya diukur berdasar kemampuan bahasa asingnya. Dan yang lebih penting adalah kesadaran dan kepercayaan diri kita dalam menyampaikan suara atau melakukan suatu komunikasi. Ketika situasi dan kondisi menuntut penguasaan bahasa indonesia yang baik, pergunakanlah bahasa ibu kita dengan sebagaimana mestinya. Begitu pula ketika forum menuntut penguasaan bahasa inggris yang baik, maka berbahasalah dengan tidak memalukan diri sendiri. Jangan sampai gara-gara nasionalisme yang membabi buta lantas kita enggan belajar bahasa asing. Sebailknya, jangan sampai pula akibat tekanan globalisasi dan transfer ilmu pengetahuan lantas mendorong kita untuk sok berbahasa inggris tanpa memedulikan konsep maupun konteks bahasanya.
Tulisan nofieiman yang lain: http://nofieiman.com/2005/04/kuliah-di-amerika/
Friday, May 18, 2007
Pasti bisa karena terpaksa terbiasa
Wednesday, May 02, 2007
Tanya jawab tentang Study di IIT Roorkee
Ini, ada beberapa kiriman e-mail dari rekan-rekan di Indonesia yang berminat untuk melanjutkan study di IIT Roorkee, mudah-mudahan bermanfaat bagi temen-temen yang lain. :)
E-mail 1:
----- Original Message ----
From: budi_arliusputra Putra
To: joni_poetra@yahoo.com
Sent: Thursday, October 12, 2006 9:16:35 PM
Subject: Tolong infonya Bung..
HI bung perkenalkan Saya Budi alumni S2 Undip Semarang sekarang ada di Semarang, Begini bung saya ingin melanjutkan S3 saya di Roorkee, ada gak ya bidang studi Arsitektur dan Planning di sana?truss biayanya berapa persemesternya? prosedurenya bagaimana bung? dan bagaimana caranya saya agar bisa join ke sana? karena saya rencananya dengan biaya sendiri, tolong ya bung saya ingin masuk pada perkuliahan tahun academik 2007 ini kapan pendaftarannya dimulai dan dokumen apa2 saja yang mesti saya persiapkan,terima kasih atas info dan bantuannya maklum saya belum pernah keindia.
terima kasih banyak.
Budi Arlius Putra, MT
Jawaban dari saya:
Sorry, br dibales skrg...krn gk terbaca nyelip diantara bebrapa email (krn 3 hari gk ngecek email)... :)
Salam kenal,
1. Tanya: ada gak ya bidang studi Arsitektur dan Planning di sana?
Jawab: Ada, untuk Ph.D Arsitektur dan Planning di IIT Roorkee.
2. Tanya: truss biayanya berapa persemesternya?
Jawab: masalah biayanya untuk detail bisa ditanyakan langsung by e-mail alamatnya: adap@iitr.ernet.in krn kami disini masuk melalui ICCR untuk perkiraan semalem saya hitung dari brochure yg kami terima(untuk program S2-selama 2 tahun kalo dirupiahin sekitar Rp. 64-65 juta selama 2 tahun), brosure untuk tahun ajaran 2005-2007, include biaya hostel,buku,medical pokoknya masuk semua kecuali tiket pesawat,paspor,visa dll.(nanti saya kirim attachmentnya krn blm smpt men-scan nya.)-ini hanya untuk perbandingan saja.
3. Tanya: prosedurenya bagaimana bung dan bagaimana caranya saya agar bisa join ke sana?
Jawab: anda bisa baca di website : www.iitr.ernet.in (klik Ph.D Admission) disana informasinya lengkap (detail advertisement,poster,information brochure & formulir pendaftarannya) sampe contact personnya ada di sana. untuk Ph.D program Architecture & Planning : R. Shankar Telp. +91-1332-285214,273169.
Anda bisa langsung mendaftar online dengan mengisi formulir pendaftaran yg tersedia di website.
Thanks.
E-mail 2:
budi_arliusputra Putra
Bung joni,terus terang saya masih super bingung nih,dan kayaknya dengan anda saya bisa mengadu hehehe :) maklum orang kampung. Bung saya sekarang sedang prepare english di jakarta, mengenai ICCR saya juga bingung dimana saya mesti dapat infonya dan apa itu ICCR?, klo menurut pemikiran saya bisa gak saya langsung ke india dan mendaftar di kampus tujuan seperti dindonesia.saya sudah buka web roorkee dan web IIT Kharagfur, sama2 sip la dan saya minat join,klo kita di indo kan ada kalender atau musim pendaftaran S3, nah klo di roorkee itu bulan2 apa saja bisa kita join, paspor
saya sudah punya dan visa kayaknya saya akan buat dalam waktu dekat ini di kedubes india dirasuna said jkt?rata2 klo saya baca kita hrs punya rekening di india berarti kan kita membayar pendaftaran diindia ya bung ato gimana bung dan kira2 bisa nggak ya anda saya minta tolong seandainya saya jadi berangkat keindia untuk menemani saya mendaftar S3 tersebut,klo memang anda bisa tolong beri saya no telp yang bisa saya hubungi anda dari indonesia,jujur saja bung saya blank banget mengenai studi ini,dan kira2 saya perlu nggak membawa rekomendasi professor dari kampus saya di undip, dengar2 kita juga harus punya konek professor dikampus tujuan gimana tuh bung joni? Saya interest join di Arsitektur and Planning, jika di IIT Kharagpur saya interest join di Arsitektur and regional planning, dan saya liat kayaknya di IIT-KGP biayanya sekitar Rp. 2.000.000-an persemesternya untuk P.hD apa benar bung? bagaimana dengan di IIT roorkee tempat bung studi sekarang? ijasah asli perlu dibawa gak ya ato Copian yang dilegalisir aja,aduh kayaknya bingung sekali yah,maklum bung saya blom nih ke india,tolong saya ya bung, bagaimana dengan suasana kuliah dikampus india maklum bahasa inggris saya masih perlu disempurnakan.
Demikian bung Joni besar harapan saya kepada anda dan terima kasih sudah mau berbagi info dengan teman anda yang masih blank ini.
Salam
Your friends
Budi Arlius Putra,ST,MT
Jawaban dari saya:
Ini saya kirim attachment expenses...
ini cuma perbandingan aja (ini expenses untuk tingkat Master yang dibiayai sama ICCR).
Di dalam attachment tsb biaya untuk Tahun I (foreign student) = Rs. 103,270 dan Tahun ke II (foreign student) = Rs. 199,950 jadi total = Rs. 303,220 atau sama dengan lebih kurang Rp. 60.644.000,- (dengan kurs Rs. 1 = Rp. 200)
ICCR itu Indian Council for Cultural Relations sebagai sponsor (pemberi dana), anda bisa buka juga website ICCR : www.iccrindia.org/scholarships.htm disana ada berbagai macam jenis beasiswa (scheme of scholarships), kebetulan kami semua disini melalui TCS Colombo Plan yang dimana setiap tahun memberikan jatah untuk mahasiswa Indonesia sebanyak 30 kursi (30 quota). Kami semua disini yang ambil Master di Roorkee dibidang Sumber Daya Air masuk melalui TCS Colombo Plan yang bekerja sama dengan Dep. PU Indonesia.
Jadi kami semua masuk disini melalui kerjasama antara PUSBIKTEK DEP. PU dan Pemerintah India. Syarat2 yg dibutuhkan:
1. Mengisi formulir/blanko yang tersedia di TCS Colombo Plan.(ada di website)
2. Fotocopy Ijazah dan Transkrip Nilai pendidikan terakhir sebanyak 4 rangkap sudah dilegalisir dan dalam bahasa inggris.
3. Rekomendasi dari Prof. atau Rektor tempat kita kuliah (pendidikan terakhir) dalam bahasa Inggris.
4. Nilai TOEFL (kalau kami dulu Min. 500) asli.
5. Mengisi formulir/blangko medical (riwayat kesehatan) tersedia di TCS Colombo Plan, dengan ditandatangani oleh Dokter yang memeriksa kita pada waktu medical Check up. (ada di web site)
Kemudian persyaratan itu kami serahkan ke PUSBIKTEK dan PUSBIKTEK yang memproses, jadi kami tinggal terima pengumuman diterima or tidak diterima. (Semuanya yang mengurus PUSBIKTEK Dep. PU).
Jadi, kalo bung Budi mau masuk berdasarkan biaya sendiri saya kurang jelas juga prosedurnya. Menurut saya bung Budi lebih baik main/ mampir dulu ke Kedutaan India di Jakarta untuk menanyakan prosedur dan apa syarat2 yg dibutuhkan, jadi jangan main tembak langsung ke India..., dan kalo bisa cari aja sponsor or pemberi beasiswa dari pemerintah India (tanya di Kedutaan India di Jakarta)... (karena rata2 mahasiswa lokal (mahasiswa india) disini juga kuliahnya karena beasiswa) semua mahasiswa disini di asrama-kan jadi hampir tidak ada yang tinggal di luar kampus krn saya lihat biaya yang mahal itu biaya Pemondokan/Asrama (Boarding Charges dan Lodging & Electricity Charges), sedangkan biaya kuliah or Institute Fee cuma sebesar Rs. 28,270, atau +- Rp. 5.654.000,- pada Tahun I, jadi kalo 1 semester ya dibagi 2 aja kurang dari 3 juta-lah. (Bung Budi bisa baca di attachment rincian biaya).
Itu aja dulu info dari saya.
Wass.
E-mail 3:
Rahmanda Noor
Dear joni,
Gua dapet email joni dari faiz, katanya bisa minta bantuan joni. Mau tanya biaya kuliah S2 di IIT Roorkee untuk jurusan software engineering berapa yah ?? Gua rencananya mau ambil S2 tahun 2008, jadi masih nabung :). Trus ada test masuk ga jon? Apa aja yah materi testnya ?. Sebelumnya banyak2 terima kasih :).
Regards
Nanda
Jawaban dari saya:
Salam kenal nanda,
Terus terang sudah ada 3 orang yang pernah menanyakan biaya study di IIT Roorkee, 1 orang minat ke Ph.D (Arsitektur), 1 orang minat ke S2-M.Tech (Mechanical ngineering), dan nanda minat S2 (Software Engineering).
Ke-3 nya menyatakan study dengan biaya sendiri.
Untuk pengalaman study dengan biaya sendiri, kami disini kurang tahu, tapi ini aku lampirkan biaya study S2 kami yang dibiayai oleh ICCR sebagai perbandingan saja. (lihat Attachment, kurs Rs.1 = Rp.200,-)
Setahu saya, kalo untuk mahasiswa asing yang biaya sendiri, perlakuannya akan sama dengan mahasiswa lokal, yaitu harus mengikuti entrance test (GATE) dan bersaing ketat dengan mahasiswa lokal disini.
Tapi kalo melalui jalur beasiswa (ICCR-TCS Colombo Plan) mahasiswa asing dibebaskan dari entrance test, hanya mengirimkan berkas persyaratan diantaranya: (ini pengalaman kami)
1. Mengisi formulir/blanko yang tersedia di TCS Colombo Plan.(Formulir ada di Kedubes India di Jakarta)
2. Fotocopy Ijazah dan Transkrip Nilai pendidikan terakhir sebanyak 4 rangkap sudah dilegalisir dan dalam bahasa Inggris.
3. Rekomendasi dari Prof. atau Rektor tempat kita kuliah (pendidikan terakhir) dalam bahasa Inggris.
4. Nilai TOEFL (kalau kami dulu Min. 500) asli.
5. Mengisi formulir/blangko medical (riwayat kesehatan) tersedia satu paket dgn formulir blanko pendaftaran, dengan ditandatangani oleh Dokter yang memeriksa kita pada waktu medical Check Up.(Tersedia di Kedubes India, Jakarta)
Kemudian persyaratan itu kami serahkan ke PUSBIKTEK dan PUSBIKTEK yang memproses, jadi kami tinggal menunggu hasil pengumuman/diterima or tidak diterima. (Semuanya yang mengurus PUSBIKTEK Dep. PU).
Jadi, alangkah lebih baiknya untuk detail informasi study dgn biaya sendiri bisa Nanda tanyakan langsung di Kedubes India di Jakarta.
PS: rasanya untuk jurusan software enginering tidak ada, yang ada jurusan Computer Science & Engineering dan jurusan Information Technology.
bisa dicheck di website IIT Roorkee --> http://www.iitr.ernet.in
ato cek disini.
Keterangan photo: Foto bersama Batch 50 dan Batch 51 dengan bapak Dubes RI untuk India H. Donillo Anwar, S.H. dan Ibu pada perayaan hari kemerdekaan RI yang ke-61 (17 Agustus 2006).
Monday, April 16, 2007
Sekilas Pendidikan di India
Ini ada beberapa tulisan yang berhubungan dengan pendidikan di India.
1. Bercermin pada mutu pendidikan di India.
2. Meneropong sistem pendidikan di India.
3. Informasi Pendidikan oleh PPI India.
4. Pendidikan Teknologi India Diakui Dunia
5. Pendidikan di IIT India
6. Membangun Lembah Silikon Cara India.
7. Perbandingan sekolah di India dan Indonesia.
8. Mengapa harga buku di India sangat murah?
9. Sejarah pendidikan India.
10. Informasi: Belajar di India dg Biaya Sendiri.
PS: Mudah-mudahan bermanfaat. :)
[Source photo from here.]
Saturday, September 30, 2006
Learning by doing...
taking photo from this
Source: Dr. Debashis Chatterjee (Professor at IIM, Lucknow, India)
He can be reached at successutras@indiatimes.com
There used to be a time when we finished school and entered the real world of work. That was when we had to stop learning to begin aerning. Now learning and earning go hand in hand. Learning is the new form of productivity. In order to grow at work, you got to be a fast track learner.
What does fast track learning mean? It simple means you've got to build a plane even as you are flying it! Sounds crazy doesn't it. Times are scary. You have to learn on the job how to do the job. Another was of describing this is: learning by burning your fingers! As our wise old uncle Aristotle said, "What we have to learn, we learn by doing."
The school of learning today has expanded to include Kindergarten to life time. The tree inter-connected contexts of fast track learning are:
1. Uncertainty
2. Change
3. Complexity.
Unfortunately, most of our schools teach the exact opposite things:
1. Certainty
2. Rigidity
3. Linearity.
These schools are going to be just as relevant as teaching a raging bull to be well behaved in a China shop.
We need to change what we learn and more importantly, how we learnt. For example learning in the body will become as important as learning through the head. Memory based learning will have to be supplemented more with hands on learning-like the way a potter learns to make a clay pot. Learning at the level of emotions will also become important. That old wise habit will have to re-visited: we have to learn by heart!

To use, click on the 

Win-win Negotiation, Anda LINK Blog ini - Aku akan LINK BACK Blog Anda!
Thanks.
:: Join Blogroll in Indonesia::