Tadi baca-baca di detikInet, ada berita: 'Wahai Blogger, Tunjukkanlah Wajahmu', jadi tergelitik dan inget dengan para blogger yang sampe detik ini aku gak tahu wajahnya. :-?
Mereka ini dapat digolongkan ke dalam blogger yang misterius, selain tidak menampilkan wajah (foto diri), juga terkadang identitas lain seperti usia yang disembunyikan. B-)
Jadi seperti kata nieke yang pernah bilang apakah bung mashuri yang dokter ini seorang kakak2, om2, bapak2 atau malah kakek2? =)) dan juga mbak satu ini walau usianya di profile disebutkan tapi foto dirinya gak ada? Jadi penasaran neh?... :-W
Juga dengan bung Maiden, bung Dirac, jeng Meutia Faradilla, bung Mufti, bung Passya, bung/jeng MpokB, dan masih banyak blogger lainnya yang mungkin merasa aman berkreasi tanpa harus menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya. :-"
Sebelumnya seperti mas kw dan simbok venus, dulunya juga misterius, sampe pada postingan kopdar, yang diposting sama simbok dengan menampilkan foto2 waktu kopdar, akhirnya sekarang jadi tahu sama mas kw dan simbok si seleb blog itu. Thanks mbok atas diposting foto2nya waktu kopdaran. ;)
Sebenarnya masalah wajah dan usia bagi beberapa orang adalah privacy mereka, jadi mereka merasa gak perlu untuk diobral ke public. *hahaha, bahasanya jadi bahasa seleb* ;))
Dan yang namanya obral, katanya, terkesan murahan? :-?
tapi, yang seperti nieke bilang, kita-kita akan terasa misterius dengan anda-anda sekalian? >-)
Jadi, Wahai Blogger, Tunjukkanlah Wajahmu!. :D
PS: ini hanya bersifat himbauan belaka, mungkin anda2 sekalian punya alasan yang sangat kuat untuk tidak harus men-share data diri asli, termasuk wajah dan usia seperti yang dimaksud diatas.
Peace for all. :X
Foto diambil dari sini.
Thursday, May 24, 2007
Wahai Blogger, Tunjukkanlah Wajahmu!
Friday, May 18, 2007
Pasti bisa karena terpaksa terbiasa
Tertarik dengan jeng nila yang pada postingannya pernah menyebutkan bahwa sekarang di Indonesia untuk anak setingkat SMP sudah diajarkan matematika dan pelajaran ilmu pasti lainnya dalam bahasa pengantar: bahasa Inggris. 
Hanya karena sumbangan yang sangat tidak sedikit baru dikucurkan dari sebuah negara besar yang presidennya baru saja mampir kemari. Maka sistem pendidikan di negara ini harus dirubah menjadi ke ’bule – bule – an’. Metoda bilingual utk sekolah2 tertentu mungkin sudah bukan barang baru. Tapi mau dibawa kemana pendidikan di negeri ini ketika pengajaran Matematika dan Fisika harus diajarkan dalam bahasa inggris juga?? *matematika & fisika saja sudah merupakan pelajaran susah – menurut saya – harus diajarkan pula dalam bahasa inggris mulai anak anak SMP* ck...ck....ck
Terus terang mendengar hal tersebut aku sangat setuju dan merasa surprise, *sorry jeng nila, aku meninjaunya dari sisi yang lain* :D berarti dalam pemikiran sederhana ini: negara kita sudah mulai memikirkan pentingnya bahasa Inggris dalam menyongsong era globalisasi, yang mau tidak mau memaksa kita untuk harus 'siap' bersaing dengan negara lain kalau tidak ingin nantinya menjadi penonton di negara sendiri. 
Karena dengan dibukanya perdagangan bebas Asia Pasifik yang dimulai pada 2010 bagi anggotanya (APEC) yang lebih maju dan 2020 bagi anggota yang masih berkembang, nantinya mau tidak mau tenaga kerja asing akan bebas masuk ke Indonesia, jadi apabila SDM kita tidak siap maka SDM kita tidak akan bisa bersaing dengan SDM asing, dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja profesional dalam negeri, dan akibatnya bisa dipastikan SDM kita tidak akan terpakai dan hanya akan menjadi 'TKI' di negeri sendiri. 
Akibat kalah bersaing, untuk posisi profesional dan strategis sudah jelas akan diambil alih oleh tenaga kerja asing yang lebih mumpuni, baik dalam penguasaan bahasa Inggris maupun dalam penguasaan teknologi, karena mereka lebih unggul. 
Satu hal yang perlu di ingat, dalam era perdagangan bebas nanti, jelas bahasa Inggris yang akan dipergunakan dan sangat berperan. Baik dalam hal conversation: percakapan sehari-hari dan juga dalam hal writing: urusan surat menyurat dan segala macam tetek bengek mengenai perjanjian kerja, peraturan kerja, kontrak kerja, guidelines/ petunjuk kerja yang nanti semuanya dalam bahasa Inggris. 
Apalagi kalau perusahaan-perusahaan asing sudah bisa bebas masuk ke Indonesia untuk mengikuti tender-tender besar yang membutuhkan teknologi tinggi, sudah pasti tender/lelang nya akan berstandar international. (sekedar contoh)
Memang seperti jeng nila pernah bilang bahwa untuk mempersiapkannya, harus memperkuat basis sistem terlebih dahulu (guru-guru yang bisa mengajar dalam bahasa inggris harus dipersiapkan terlebih dahulu), baru kemudian diterapkan untuk anak didiknya. Karena bagaimana mau mengajarkan math or physic dalam bahasa inggris sedang gurunya aja bahasa inggrisnya masih belepotan??? sergah jeng nila sewot. 
Setuju dengan pendapat jeng nila, bahwa guru-guru bahasa Inggrisnya yang harus dipersiapkan terlebih dahulu. 
Tapi, menurut pemikiranku juga gak pa pa kalo bisa dimulai dari sekarang, *sambil jalan* walau untuk kondisi ideal belum dapat dikatakan pantas, guru yang masih perlu diberikan tambahan les bahasa inggris tapi sudah diharuskan untuk mengajar. 
Yeah just it, IMHO: ala bisa karena terbiasa atau pasti bisa karena terpaksa dan tak ada pilihan lain. 
Jadi menurut konsep: ala bisa karena terbiasa atau pasti bisa karena terpaksa dan tak ada pilihan lain, maka otak dan jiwa akan bekerja maksimal (tergenjot) *bahasanya*
untuk bisa mengerti dan memahami, dan semakin sering melakukannya maka akan semakin mudah dan terbiasa untuk menangkap dan dimengerti.
Seperti contoh pengalaman kami di sini, menunjukan bahwa betapa pentingnya bahasa Inggris itu untuk diajarkan semenjak dari sekolah menengah. Karena melihat rekans dari negara lain: India, Srilanka, Nepal yang sudah terbiasa menerima proses belajar mengajar dengan bahasa pengantar: bahasa inggris sejak mereka di sekolah menengah. Jadi di kelas mereka lebih unggul hanya karena penguasaan bahasa yang lebih baik. 
Seseorang yang walaupun TOEFL-nya diatas 750 550 tapi kalo tidak terlatih ngomong dan jarang mendengarkan secara langsung pasti akan mengalami kesulitan. Bahkan bisa sedikit stress,
ini banyak terjadi pada mahasiswa Indonesia yang study di luar negeri pada awal-awal kedatangan mereka dahulu. Tidak hanya di India tapi juga mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di negara lain contoh Amerika dan Australia. (pernah baca dimilis)
Jadi, dengan mulai diterapkannya bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah, mulai dari tingkat sekolah menengah pertama. Mudah-mudahan Indonesia akan bisa menyusul ketertinggalannya dari negara lain yang notabene bahasa Inggris juga bukanlah bahasa ibu mereka, seperti India, Malaysia, Singapore, Srilanka dll. 
PS: Di bawah ini ada tulisan yang maksudnya sama seperti diatas, membahas 'a must' or 'depends on' bahasa Inggris dalam sistem pendidikan di Indonesia, dapat googling dari http://nofieiman.com
Sengaja saya copy paste disini agar bisa dibaca sama yang lain, sekalian ngarsip. :)BELAJAR DARI INDIA
Sumber: http://nofieiman.com/repository/belajar-dari-india.pdf
Menjelang akhir tahun 2005 lalu, para petinggi negeri ini berkunjung ke Bangalore untuk bertemu para eksekutif dari software house di sana. Dalam pertemuan tersebut, chairman Infosys menyatakan bahwa kesuksesan mereka diraih berkat penguasaan bahasa inggris yang mumpuni. Penguasaan bahasa inggris tersebut memungkinkan mereka berkomunikasi dengan baik terhadap pasar dan komunitas internasional.
India memang merupakan negara besar dengan jumlah english speaker terbesar kedua di dunia. India juga merupakan negara penghasil software terbesar kedua setelah Amerika dengan nilai ekspor $17 milyar. Diperkirakan, pada tahun 2008 nanti penjualan mereka akan menembus angka $50 milyar. Dari data dan fakta tersebut, ada baiknya kita untuk sedikit mencoba belajar dari India.
Menilik sejarahnya, selepas merdeka dari Inggris, Parlemen India sempat berusaha memilih salah satu indigenous language untuk dikukuhkan sebagai bahasa nasional. Usaha ini sayangnya tidak pernah berhasil mencapai kesepakatan karena tiap-tiap ethnic group berusaha mempromosikan bahasanya masing-masing. Di kemudian hari, ternyata hal ini justru menjadi blessing in disguise.
Sampai saat ini, bahasa inggris memang mendominasi sebagai bahasa percakapan dan komunikasi di seantero dunia. Lebih dari 80% situs web di internet disajikan dalam bahasa inggris. Bahasa terbesar kedua, Jerman, hanya menguasai 1,5% sementara bahasa Jepang hanya menguasai 3,1%. Tercatat pula 60% hingga 85% email yang terkirim dikemas dalam bahasa inggris. Dan satu dari lima orang di muka bumi ini dapat berbahasa inggris, meskipun hanya pada level kompetensi tertentu saja.
Bicara tentang penggunaan bahasa inggris, menguasai bahasa asing bisa sejatinya bersifat “depends on” atau “a must.” Penguasaan bahasa asing bisa bersifat “depends on” ketika pemerintah dapat menyediakan lapangan pekerjaan domestik yang mencukupi. Sebaliknya, ketika peningkatan tenaga kerja melampaui lapangan pekerjaan domestik yang tersedia, maka selayaknya sistem pendidikan kita harus menyiapkan anak didiknya untuk memasuki pasar kerja global. Dalam hal ini, kemampuan berbahasa asing tidak lagi “depends on” melainkan sudah merupakan suatu keharusan (baca: “a must”).
Dari sudut pandang yang berbeda, penguasaan bahasa asing juga dapat dipetakan berdasar derajat kesarjanaan yang berbeda. Misalnya, untuk tingkat pasca-sarjana (S2 dan S3), penguasaan bahasa inggris pada level interaksi yang mumpuni merupakan suatu keharusan. Sementara untuk level S1 ke bawah, penguasaan bahasa inggris secara pasif saja boleh dikatakan cukup. Berbeda dengan lulusan S1, para mahasiswa pasca-sarjana memang dididik untuk menjadi scientist. Sebagai seorang scientist, kemungkinan untuk bergaul dengan peer mereka di luar negeri jauh lebih besar daripada lulusan S1. Mereka mungkin menghabiskan lebih dari separuh working hoursnya dengan komunitas yang memerlukan bahasa inggris sebagai alat komunikasi utama.
Di sisi lain, penguasaan bahasa asing juga terkait dengan strategi pemberdayaan resources yang ada di negeri ini. Kita akan dihadapkan pada pilihan untuk memperkuat hard knowledge atau memperkuat soft skill berupa penguasaan bahasa asing. Sebagai contoh, kita dihadapkan pada pilihan apakah dana yang ada lebih baik digunakan untuk menambah lab fisika/matematika atau meningkatkan jumlah guru bahasa inggris. Tentu saja hal ini bergantung pada pilihan arah pembangunan ekonomi kita. Jika kita lebih mengandalkan pekerjaan yang dioutsource oleh negara-negara maju, tentu penguasaan bahasa inggris adalah mutlak. Sebaliknya, jika kita memprioritaskan kemampuan lokal untuk mengeksploitasi sumberdaya alam di negeri ini, maka hard knowledge menjadi jauh lebih penting. Integrated strategy semacam inilah yang harus dipikirkan ulang oleh para policy maker kita.
Dan terakhir, bagi para public figure yang kolam airnya berada di level internasional, semestinya juga ditunjang oleh penguasaan bahasa asing yang baik dan benar. Harapannya, selain menjalin komunikasi dengan komunitas asing, juga diharapkan dapat ikut memarketingkan Indonesia kendati tidak secara langsung. Sebutlah Anwar Ibrahim atau Dorodjatun Kuntjorojakti yang mampu berbicara inggris dengan baik dan tetap mudah dimengerti.
Ada beberapa solusi untuk merealisasikan wacana tersebut. Langkah pertama adalah melakukan transfer ilmu pengetahuan secara terarah dan berlanjut –dari bahasa asing menjadi bahasa Indonesia- agar iptek terkini dunia lebih mudah diserap oleh orang-orang kita. Diharapkan, orang-orang Indonesia kelak dapat mempunyai akses informasi menuju iptek dunia dan memberikan manfaat terapan pada orang banyak meski belum menguasai bahasa inggris secara baik. Di Amerika misalnya, pekerja iptek yang aktif menambah khazanah iptek manusia hanya 1-2 persen saja dari penduduknya, tetapi hasilnya dinikmati oleh hampir seluruh penduduk Amerika.
Solusi kedua adalah menjadikan bahasa inggris sebagai bahasa primer yang resmi dan mendegradasi bahasa indonesia. Berbeda dengan Malaysia yang menggunakan bahasa inggris sebagai penghubung antara etnik Melayu, Cina, dan India; Indonesia telanjur memilih bahasa melayu (bahasa indonesia) sebagai bahasa penghubung. Dengan demikian, (hampir) mustahil memunculkan bahasa penghubung kedua karena pada prakteknya kita hanya akan memakai satu bahasa. Jika langkah ini diambil, konsekuensinya bahasa indonesia hanya sekadar menjadi bahasa lokal, bahasa gaul anak muda, atau bahasa dalam lirik lagu dan karya sastra lainnya.
Akan tetapi, langkah praktis yang ideal dan lebih masuk akal justru dapat dimulai dari diri kita sendiri. Kita bisa mencoba untuk tidak melewatkan satu hari pun tanpa kegiatan yang bisa meningkatkan kemampuan bahasa inggris kita. By any means. Sebut saja seperti membaca koran/majalah asing, menulis paper, membaca textbook dan jurnal asing, mendengarkan BBC atau VOA, menonton film, mengunjungi English speaking zone, membaca komik Asterix, dan seterusnya. Harapannya, ketika salah satu dari kita kelak tiba-tiba “terpeleset” menjadi public figure (dekan, rektor, duta besar, menteri, gubernur, bupati/walikota, pengusaha, artis, dan sebagainya) kita bisa membawa diri dengan baik dan memukau dalam forum internasional.
Terakhir, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa kita seharusnya tetap bisa memaklumi dan menghargai orang lain yang belum mampu berbicara bahasa inggris dengan baik, mengingat bahasa tersebut bukan native language kita. Kualitas dan kapabilitas seseorang toh tidak melulu hanya diukur berdasar kemampuan bahasa asingnya. Dan yang lebih penting adalah kesadaran dan kepercayaan diri kita dalam menyampaikan suara atau melakukan suatu komunikasi. Ketika situasi dan kondisi menuntut penguasaan bahasa indonesia yang baik, pergunakanlah bahasa ibu kita dengan sebagaimana mestinya. Begitu pula ketika forum menuntut penguasaan bahasa inggris yang baik, maka berbahasalah dengan tidak memalukan diri sendiri. Jangan sampai gara-gara nasionalisme yang membabi buta lantas kita enggan belajar bahasa asing. Sebailknya, jangan sampai pula akibat tekanan globalisasi dan transfer ilmu pengetahuan lantas mendorong kita untuk sok berbahasa inggris tanpa memedulikan konsep maupun konteks bahasanya.
Tulisan nofieiman yang lain: http://nofieiman.com/2005/04/kuliah-di-amerika/
Friday, April 20, 2007
Googling IPDN
Disaat kita butuh informasi yang cepat bagi yang terakses dengan Internet akan mudah teratasi yaitu dengan memanfaatkan bantuan Mbah Google, itupun dengan syarat apabila data-data yang kita cari itu sebelumnya sudah tersimpan di database-nya mbah google atau search engine lainnya. :)
Iseng, pengen baca-baca artikel tentang IPDN yang sedang heboh dan marak, sebelumnya sudah banyak informasi yang didapat tentang IPDN dari para blogger, malah atas nama alumni IPDN, mereka (alumni IPDN atau simpatisan IPDN) membuat blog sendiri dengan maksud meng-counter serangan-serangan yang dilancarkan para blogger yang sebagian besar menyuarakan agar sebaiknya IPDN dibubarkan saja.
Begitu saya coba ketik keyword IPDN pada Google Search Engine, tidak ditemukan data-data dokumen yang dimaksud, tapi yang mengherankan mbah google malah balik bertanya dan sepertinya sudah tahu kepanjangan dari IPDN yang sebenarnya? :-O
Gak percaya dengan hasil yang dimaksud, aku coba ulangi dengan mengetik kata kunci yang sama dengan harapan akan keluar dokumen/data-data yang lainnya, tetapi tetap tidak ditemukan juga, malah membuat saya lebih bingung lagi? karena mbah google balik bertanya dengan pertanyaan yang lain? :-?
Akhirnya karena bingung kok mbah google bisa tahu arti kepanjangan yang sebenarnya dari IPDN? ;))
iseng-iseng aku mengetikkan nama sendiri dan hasilnya bikin aku tambah bingung?... masak dikatakannya diriku ini orangnya ramah, baik hati, santun dan suka menolong? =))
Pasti mbah google sedang error fikirku gak percaya... [-(
aku coba ulangi lagi dan akhirnya... mbah google benar-benar tahu siapa diriku yang sebenarnya... ;)
Hahaha... pengen coba? coba aja di kembarannya ini: Gooogle. =))
PS: Eh... ngomong-ngomong setuju gak kalo IPDN dibubarkan saja? Mbah google aja tahu kok arti dari IPDN yang sebenarnya, kalo masih gak percaya coba klik sini ato sini. :D
Monday, March 19, 2007
Blogger pilihan hidup: ngeblog untuk mencari nafkah
Semalam blogwalking ke sini, rupanya ada berita menarik tentang: Jadi ‘Full Time Blogger’ sebagai sebuah pilihan. :-O
Tertarik ingin mengomentari seorang Budi Putra yang berani membuat keputusan kontroversial dengan menjadikan ngeblog sebagai sebuah pilihan profesi. ;))
Mungkin anda juga bingung termasuk saya, kok berani-beraninya meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan dengan menjadi seorang blogger full time? padahal ngeblog ini kan hanya sekedar hobi, sambilan, ngisi waktu luang atau sarana bergaul untuk mencari teman di dunia maya, ;)) tapi kok ada yang berfikiran bisa menggantungkan hidup dari ngeblog?
Apa latar belakang dari Budi Putra memutuskan demikian? :-?
Setelah membaca beberapa ulasan yang ditautkan Budi Putra tentang full time blogger dan mendengarkan wawancara singkat-nya dengan Suarane.com, latar belakang dia adalah ingin menjadi 'trigger' bagi dunia blogosphere di Indonesia. :)
Dia ingin mencontohkan bahwa dengan menjadi seorang blogger full time, masih akan bisa menghidupi keluarga, arti 'tersiratnya' adalah anda tidak harus menjadi seorang karyawan, pegawai, dokter atau profesi-profesi lain, yang selama ini dianggap sebagian besar masyarakat Indonesia sebagai profesi yang layak dan terhormat, untuk bisa hidup.
Tapi berprofesi sebagai seorang blogger pun bisa untuk dijadikan salah satu alternatif, asal dikelola dengan profesional. =D>
Ini dijelaskan lebih lanjut olehnya, tentang sumber alternatif penghasilan dari seorang blogger, yaitu:
1. Dari Adsense yang dipasang baik itu Google Adsense, Adbrite dan yang lain2.
(Beberapa - Blogger Indonesia, pernah mungkin sering mendapatkan penghasilan 500-600 USD per-bulan dari hasil Adsense yang dia pasang di blognya). $-)
2. Jadi penulis blog tamu yaitu menulis postingan di media, situs, blog lain yang akan dibayar.
3. Menjadi seorang Konsultan, Advisor blog untuk perusahaan2 yang membutuhkan.
Memang untuk menjadi seorang blogger profesional yang 'menghasilkan' dibutuhkan keseriusan dan kemampuan menulis yang biasa dimiliki oleh para jurnalis, tapi tidak menutup kemungkinan bagi yang tidak berprofesi sebagai jurnalis untuk bisa menulis bukan? asal ada kemauan dan niat yang kuat semua bisa dipelajari dengan baik. :)
Ini ada tulisan yang topiknya sama tentang BLOGGING FOR A LIVING (Ngeblog untuk mencari nafkah) yang dilakukan oleh Heather Armstrong (30 tahun) dengan blognya yang dia beri nama Dooce, jauh sebelum Budi Putra memutuskan hal yang sama.
Jadi berdasarkan analisa dan penjelasan-penjelasan diatas, apakah anda berani mengikuti jejak seorang Budi Putra untuk menjadi Blogger Full Time dengan meninggalkan pekerjaan Anda sekarang? ;))
PS: Pesan Serius buat ibu-ibu, Anda pun bisa meniru jejak seorang Heather Armstrong, seorang wanita karier yang rela berhenti bekerja untuk menjadi ibu rumah tangga blogger full time. ;)
Source photo from here and here
Thursday, February 01, 2007
Negotiation?

Selama kita hidup di muka bumi ini tidak bisa lepas dari yang namanya 'negosiasi'.
Negosiasi itu bagaikan sebuah tarian yang tiada henti dan lantai dansanya adalah kehidupan itu sendiri...
seorang bayi bernegosiasi susu ibunya,
anak-anak bernegosiasi mainan terbaiknya,
remaja bernegosiasi uang jajan yang lebih besar,
muda-mudi bernegosiasi untuk kawin dan,
orang lansia bernegosiasi untuk seperti anak2 lagi.
Didalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa lepas dari negosiasi,
bahkan sering tanpa disadari???
ketika membeli sesuatu, kita bernegosiasi untuk harga yang pantas,
ketika melamar pekerjaan, kita bernegosiasi masalah gaji,
ketika melamar seorang gadis, kita bernegosiasi mahar/mas kawin/serah2an,
ketika sedang mengajukan proposal untuk suatu proyek, bernegosiasi masalah persentase keuntungan,
ketika kita menginginkan sesuatu,
kita bernegosiasi dengan berusaha memberikan timbal balik yang sesuai,
tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak melakukan negosiasi!!!
Maria Eva pun pasti bernegosiasi dengan Yahya Zaini,
Aa' Gym juga bernegosiasi dengan Teh Ninih,
Mahasiswa bernegosiasi dengan dosennya,
Pembantu bernegosiasi dengan majikannya,
Akupun bernegosiasi dengan istriku,
Dan sering aku perhatikan, orang-orang yang dengan kemampuan 'negosiasi' yang tinggi dapat dengan mudah mencapai apa yang diinginkannya???
tapi, sekali prinsip negosiasi itu tidak dipenuhi maka bahaya mengancam???
Prinsip negosiasi adalah prinsip menang-menang... *win-win negotiation*
Sekali ada pihak yang merasa dikalahkan maka dia akan mengkhianati 'negosiasi' yang telah dibuat dan ini berlaku umum!!!
Dimanapun di dunia ini tak ada orang yang mau kalah, tak ada orang yang suka dirugikan, semua orang ingin menang, semua ingin untung. Bahkan ini sudah menjadi naluri manusia.
Benar, ada orang yang mau mengalah, tetapi tujuannya adalah untuk menang.
Benar, ada banyak orang yang terpaksa kalah, tetapi sebenarnya mereka tidak rela kalah, dan jika ada kesempatan mereka akan berontak...
seperti negosiasi antara Maria Eva dengan Yahya Zaini kah???
P.S:
jadi berhati-hatilah dengan negosiasi Anda??? :p
Sunday, January 07, 2007
Who's the Bigger Criminal, SADDAM or BUSH?

Saddam killed many Shi'ites in Iraq.
As punishment, the Iraqi Government has hanged Saddam.
Bush attacked Iraq on the pretext that it possessed Weapon of Mass Destruction (WMD) that posed a threat to International Security.
But...
the weapons were never found!!!
Bush took control of Iraq,
imprisoned Saddam, and finally had him HANGED!!!
Since the Invasion of Iraq,
more than 600,000 Iraqis and 3,000 US soldiers
have been killed and continue to be.
Bush is responsible for the killing of men, women and children in Iraq.
Who is the BIGGER CRIMINAL???
SADDAM or BUSH???
Why is the whole world keep silent???
Why are you also keep silent???

To use, click on the 

Win-win Negotiation, Anda LINK Blog ini - Aku akan LINK BACK Blog Anda!
Thanks.
:: Join Blogroll in Indonesia::