Tertarik dengan jeng nila yang pada postingannya pernah menyebutkan bahwa sekarang di Indonesia untuk anak setingkat SMP sudah diajarkan matematika dan pelajaran ilmu pasti lainnya dalam bahasa pengantar: bahasa Inggris. 
Hanya karena sumbangan yang sangat tidak sedikit baru dikucurkan dari sebuah negara besar yang presidennya baru saja mampir kemari. Maka sistem pendidikan di negara ini harus dirubah menjadi ke ’bule – bule – an’. Metoda bilingual utk sekolah2 tertentu mungkin sudah bukan barang baru. Tapi mau dibawa kemana pendidikan di negeri ini ketika pengajaran Matematika dan Fisika harus diajarkan dalam bahasa inggris juga?? *matematika & fisika saja sudah merupakan pelajaran susah – menurut saya – harus diajarkan pula dalam bahasa inggris mulai anak anak SMP* ck...ck....ck
Terus terang mendengar hal tersebut aku sangat setuju dan merasa surprise, *sorry jeng nila, aku meninjaunya dari sisi yang lain* :D berarti dalam pemikiran sederhana ini: negara kita sudah mulai memikirkan pentingnya bahasa Inggris dalam menyongsong era globalisasi, yang mau tidak mau memaksa kita untuk harus 'siap' bersaing dengan negara lain kalau tidak ingin nantinya menjadi penonton di negara sendiri. 
Karena dengan dibukanya perdagangan bebas Asia Pasifik yang dimulai pada 2010 bagi anggotanya (APEC) yang lebih maju dan 2020 bagi anggota yang masih berkembang, nantinya mau tidak mau tenaga kerja asing akan bebas masuk ke Indonesia, jadi apabila SDM kita tidak siap maka SDM kita tidak akan bisa bersaing dengan SDM asing, dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja profesional dalam negeri, dan akibatnya bisa dipastikan SDM kita tidak akan terpakai dan hanya akan menjadi 'TKI' di negeri sendiri. 
Akibat kalah bersaing, untuk posisi profesional dan strategis sudah jelas akan diambil alih oleh tenaga kerja asing yang lebih mumpuni, baik dalam penguasaan bahasa Inggris maupun dalam penguasaan teknologi, karena mereka lebih unggul. 
Satu hal yang perlu di ingat, dalam era perdagangan bebas nanti, jelas bahasa Inggris yang akan dipergunakan dan sangat berperan. Baik dalam hal conversation: percakapan sehari-hari dan juga dalam hal writing: urusan surat menyurat dan segala macam tetek bengek mengenai perjanjian kerja, peraturan kerja, kontrak kerja, guidelines/ petunjuk kerja yang nanti semuanya dalam bahasa Inggris. 
Apalagi kalau perusahaan-perusahaan asing sudah bisa bebas masuk ke Indonesia untuk mengikuti tender-tender besar yang membutuhkan teknologi tinggi, sudah pasti tender/lelang nya akan berstandar international. (sekedar contoh)
Memang seperti jeng nila pernah bilang bahwa untuk mempersiapkannya, harus memperkuat basis sistem terlebih dahulu (guru-guru yang bisa mengajar dalam bahasa inggris harus dipersiapkan terlebih dahulu), baru kemudian diterapkan untuk anak didiknya. Karena bagaimana mau mengajarkan math or physic dalam bahasa inggris sedang gurunya aja bahasa inggrisnya masih belepotan??? sergah jeng nila sewot. 
Setuju dengan pendapat jeng nila, bahwa guru-guru bahasa Inggrisnya yang harus dipersiapkan terlebih dahulu. 
Tapi, menurut pemikiranku juga gak pa pa kalo bisa dimulai dari sekarang, *sambil jalan* walau untuk kondisi ideal belum dapat dikatakan pantas, guru yang masih perlu diberikan tambahan les bahasa inggris tapi sudah diharuskan untuk mengajar. 
Yeah just it, IMHO: ala bisa karena terbiasa atau pasti bisa karena terpaksa dan tak ada pilihan lain. 
Jadi menurut konsep: ala bisa karena terbiasa atau pasti bisa karena terpaksa dan tak ada pilihan lain, maka otak dan jiwa akan bekerja maksimal (tergenjot) *bahasanya*
untuk bisa mengerti dan memahami, dan semakin sering melakukannya maka akan semakin mudah dan terbiasa untuk menangkap dan dimengerti.
Seperti contoh pengalaman kami di sini, menunjukan bahwa betapa pentingnya bahasa Inggris itu untuk diajarkan semenjak dari sekolah menengah. Karena melihat rekans dari negara lain: India, Srilanka, Nepal yang sudah terbiasa menerima proses belajar mengajar dengan bahasa pengantar: bahasa inggris sejak mereka di sekolah menengah. Jadi di kelas mereka lebih unggul hanya karena penguasaan bahasa yang lebih baik. 
Seseorang yang walaupun TOEFL-nya diatas 750 550 tapi kalo tidak terlatih ngomong dan jarang mendengarkan secara langsung pasti akan mengalami kesulitan. Bahkan bisa sedikit stress,
ini banyak terjadi pada mahasiswa Indonesia yang study di luar negeri pada awal-awal kedatangan mereka dahulu. Tidak hanya di India tapi juga mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di negara lain contoh Amerika dan Australia. (pernah baca dimilis)
Jadi, dengan mulai diterapkannya bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah, mulai dari tingkat sekolah menengah pertama. Mudah-mudahan Indonesia akan bisa menyusul ketertinggalannya dari negara lain yang notabene bahasa Inggris juga bukanlah bahasa ibu mereka, seperti India, Malaysia, Singapore, Srilanka dll. 
PS: Di bawah ini ada tulisan yang maksudnya sama seperti diatas, membahas 'a must' or 'depends on' bahasa Inggris dalam sistem pendidikan di Indonesia, dapat googling dari http://nofieiman.com
Sengaja saya copy paste disini agar bisa dibaca sama yang lain, sekalian ngarsip. :)
BELAJAR DARI INDIA
Sumber: http://nofieiman.com/repository/belajar-dari-india.pdf
Menjelang akhir tahun 2005 lalu, para petinggi negeri ini berkunjung ke Bangalore untuk bertemu para eksekutif dari software house di sana. Dalam pertemuan tersebut, chairman Infosys menyatakan bahwa kesuksesan mereka diraih berkat penguasaan bahasa inggris yang mumpuni. Penguasaan bahasa inggris tersebut memungkinkan mereka berkomunikasi dengan baik terhadap pasar dan komunitas internasional.
India memang merupakan negara besar dengan jumlah english speaker terbesar kedua di dunia. India juga merupakan negara penghasil software terbesar kedua setelah Amerika dengan nilai ekspor $17 milyar. Diperkirakan, pada tahun 2008 nanti penjualan mereka akan menembus angka $50 milyar. Dari data dan fakta tersebut, ada baiknya kita untuk sedikit mencoba belajar dari India.
Menilik sejarahnya, selepas merdeka dari Inggris, Parlemen India sempat berusaha memilih salah satu indigenous language untuk dikukuhkan sebagai bahasa nasional. Usaha ini sayangnya tidak pernah berhasil mencapai kesepakatan karena tiap-tiap ethnic group berusaha mempromosikan bahasanya masing-masing. Di kemudian hari, ternyata hal ini justru menjadi blessing in disguise.
Sampai saat ini, bahasa inggris memang mendominasi sebagai bahasa percakapan dan komunikasi di seantero dunia. Lebih dari 80% situs web di internet disajikan dalam bahasa inggris. Bahasa terbesar kedua, Jerman, hanya menguasai 1,5% sementara bahasa Jepang hanya menguasai 3,1%. Tercatat pula 60% hingga 85% email yang terkirim dikemas dalam bahasa inggris. Dan satu dari lima orang di muka bumi ini dapat berbahasa inggris, meskipun hanya pada level kompetensi tertentu saja.
Bicara tentang penggunaan bahasa inggris, menguasai bahasa asing bisa sejatinya bersifat “depends on” atau “a must.” Penguasaan bahasa asing bisa bersifat “depends on” ketika pemerintah dapat menyediakan lapangan pekerjaan domestik yang mencukupi. Sebaliknya, ketika peningkatan tenaga kerja melampaui lapangan pekerjaan domestik yang tersedia, maka selayaknya sistem pendidikan kita harus menyiapkan anak didiknya untuk memasuki pasar kerja global. Dalam hal ini, kemampuan berbahasa asing tidak lagi “depends on” melainkan sudah merupakan suatu keharusan (baca: “a must”).
Dari sudut pandang yang berbeda, penguasaan bahasa asing juga dapat dipetakan berdasar derajat kesarjanaan yang berbeda. Misalnya, untuk tingkat pasca-sarjana (S2 dan S3), penguasaan bahasa inggris pada level interaksi yang mumpuni merupakan suatu keharusan. Sementara untuk level S1 ke bawah, penguasaan bahasa inggris secara pasif saja boleh dikatakan cukup. Berbeda dengan lulusan S1, para mahasiswa pasca-sarjana memang dididik untuk menjadi scientist. Sebagai seorang scientist, kemungkinan untuk bergaul dengan peer mereka di luar negeri jauh lebih besar daripada lulusan S1. Mereka mungkin menghabiskan lebih dari separuh working hoursnya dengan komunitas yang memerlukan bahasa inggris sebagai alat komunikasi utama.
Di sisi lain, penguasaan bahasa asing juga terkait dengan strategi pemberdayaan resources yang ada di negeri ini. Kita akan dihadapkan pada pilihan untuk memperkuat hard knowledge atau memperkuat soft skill berupa penguasaan bahasa asing. Sebagai contoh, kita dihadapkan pada pilihan apakah dana yang ada lebih baik digunakan untuk menambah lab fisika/matematika atau meningkatkan jumlah guru bahasa inggris. Tentu saja hal ini bergantung pada pilihan arah pembangunan ekonomi kita. Jika kita lebih mengandalkan pekerjaan yang dioutsource oleh negara-negara maju, tentu penguasaan bahasa inggris adalah mutlak. Sebaliknya, jika kita memprioritaskan kemampuan lokal untuk mengeksploitasi sumberdaya alam di negeri ini, maka hard knowledge menjadi jauh lebih penting. Integrated strategy semacam inilah yang harus dipikirkan ulang oleh para policy maker kita.
Dan terakhir, bagi para public figure yang kolam airnya berada di level internasional, semestinya juga ditunjang oleh penguasaan bahasa asing yang baik dan benar. Harapannya, selain menjalin komunikasi dengan komunitas asing, juga diharapkan dapat ikut memarketingkan Indonesia kendati tidak secara langsung. Sebutlah Anwar Ibrahim atau Dorodjatun Kuntjorojakti yang mampu berbicara inggris dengan baik dan tetap mudah dimengerti.
Ada beberapa solusi untuk merealisasikan wacana tersebut. Langkah pertama adalah melakukan transfer ilmu pengetahuan secara terarah dan berlanjut –dari bahasa asing menjadi bahasa Indonesia- agar iptek terkini dunia lebih mudah diserap oleh orang-orang kita. Diharapkan, orang-orang Indonesia kelak dapat mempunyai akses informasi menuju iptek dunia dan memberikan manfaat terapan pada orang banyak meski belum menguasai bahasa inggris secara baik. Di Amerika misalnya, pekerja iptek yang aktif menambah khazanah iptek manusia hanya 1-2 persen saja dari penduduknya, tetapi hasilnya dinikmati oleh hampir seluruh penduduk Amerika.
Solusi kedua adalah menjadikan bahasa inggris sebagai bahasa primer yang resmi dan mendegradasi bahasa indonesia. Berbeda dengan Malaysia yang menggunakan bahasa inggris sebagai penghubung antara etnik Melayu, Cina, dan India; Indonesia telanjur memilih bahasa melayu (bahasa indonesia) sebagai bahasa penghubung. Dengan demikian, (hampir) mustahil memunculkan bahasa penghubung kedua karena pada prakteknya kita hanya akan memakai satu bahasa. Jika langkah ini diambil, konsekuensinya bahasa indonesia hanya sekadar menjadi bahasa lokal, bahasa gaul anak muda, atau bahasa dalam lirik lagu dan karya sastra lainnya.
Akan tetapi, langkah praktis yang ideal dan lebih masuk akal justru dapat dimulai dari diri kita sendiri. Kita bisa mencoba untuk tidak melewatkan satu hari pun tanpa kegiatan yang bisa meningkatkan kemampuan bahasa inggris kita. By any means. Sebut saja seperti membaca koran/majalah asing, menulis paper, membaca textbook dan jurnal asing, mendengarkan BBC atau VOA, menonton film, mengunjungi English speaking zone, membaca komik Asterix, dan seterusnya. Harapannya, ketika salah satu dari kita kelak tiba-tiba “terpeleset” menjadi public figure (dekan, rektor, duta besar, menteri, gubernur, bupati/walikota, pengusaha, artis, dan sebagainya) kita bisa membawa diri dengan baik dan memukau dalam forum internasional.
Terakhir, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa kita seharusnya tetap bisa memaklumi dan menghargai orang lain yang belum mampu berbicara bahasa inggris dengan baik, mengingat bahasa tersebut bukan native language kita. Kualitas dan kapabilitas seseorang toh tidak melulu hanya diukur berdasar kemampuan bahasa asingnya. Dan yang lebih penting adalah kesadaran dan kepercayaan diri kita dalam menyampaikan suara atau melakukan suatu komunikasi. Ketika situasi dan kondisi menuntut penguasaan bahasa indonesia yang baik, pergunakanlah bahasa ibu kita dengan sebagaimana mestinya. Begitu pula ketika forum menuntut penguasaan bahasa inggris yang baik, maka berbahasalah dengan tidak memalukan diri sendiri. Jangan sampai gara-gara nasionalisme yang membabi buta lantas kita enggan belajar bahasa asing. Sebailknya, jangan sampai pula akibat tekanan globalisasi dan transfer ilmu pengetahuan lantas mendorong kita untuk sok berbahasa inggris tanpa memedulikan konsep maupun konteks bahasanya.
Tulisan nofieiman yang lain: http://nofieiman.com/2005/04/kuliah-di-amerika/
[+/-] Read More...
[+/-] Summary only...