Here, i put a spiritual article: 10 Tips For Spiritual Growth, by Remez Sasson, it is important for us to awakening the wisdom and power within. Please read by carefully. :)
Besides that, he also provide Free eBooks about success, the power of thoughts, mind power, creative visualization, positive thinking and self improvement.
You can download here for free eBooks as described above.
10 Tips For Spiritual Growth
Spiritual growth is the process of inner awakening, and becoming conscious our inner being. It means the rising of the consciousness beyond the ordinary existence, and awakening to some Universal truths. It means going beyond the mind and the ego and realizing who you really are.
Spiritual growth is a process of shedding our wrong and unreal conceptions, thoughts, beliefs and ideas, and becoming more and more conscious and aware of our inner being. This process uncovers the inner spirit that is always present, but hidden beyond the ego-personality.
Spiritual growth is of great importance for everyone, not only for people who seek spiritual enlightenment and choose to live in far away or secluded places. Spiritual growth is the basis for a better and more harmonious life for everyone, a life free of tension, fear and anxiety.
By discovering who we really are we take a different approach to life. We learn not to let outer circumstances influence our inner being and state of mind. We manifest composure and detachment, and we develop inner power and strength, all of which are very useful and important tools.
Spiritual growth is not a means for escaping from responsibilities, behaving strangely and becoming an impractical person. It is a method of growing and becoming a stronger, happier and more responsible person.
You can walk on the path of spiritual growth, and at the same time live the same kind of life as everyone else. You do not have to live a secluded life in some far away place. You can raise a family, work or run a business, and yet at the same time engage in practices that lead to inner growth.
A balanced life requires that we take care not only of the necessities of the body, feelings and mind, but also of the spirit, and this is the role of spiritual growth.
10 tips for spiritual growth:
1. Read spiritual and uplifting books. Think about what you read, and find out how you can use the information in your life.
2. Meditate for at least 15 minutes every day. If you do not know how to meditate, it is easy to find books, websites or teachers who can teach you meditation.
3. Learn to make your mind quiet through concentration exercises and meditation.
4. Acknowledge the fact that you are a spirit with a physical body, not a physical body with a spirit. If you can really accept this idea, it will change your attitude towards many things in your life.
5. Look often into yourself and into your mind, and try to find out what is it that makes you feel conscious and alive.
6. Think positive. If you find yourself thinking negatively, immediately switch to thinking positively. Be in control of what enters your mind. Open the door for the positive and close it for the negative.
7. Develop the happiness habit, by always looking at the bright side of life and endeavoring to be happy. Happiness comes from within. Do not let your outer circumstances decide your happiness for you.
8. Exercise often your will power and decision making ability. This strengthens you and gives you control over your mind.
9. Thank the Universe for everything that you get.
10. Develop tolerance, patience, tact and consideration for others.
Spiritual growth is the birthright of everyone. It is the key to a life of happiness and peace of mind, and the manifesting the enormous power of the inner spirit. This spirit is equally present within the most material person, and within the most spiritual person. The level of the manifestation of spirituality is dependent on how much the inner spirit is close to the surface, and on how much it is covered and hidden, by thoughts, beliefs and negative habits.
PS: Remez Sasson teaches and writes on positive thinking, creative visualization, motivation, self-improvement, peace of mind, spiritual growth and meditation. He is the author of several books, among which are "Peace of mind in Daily Life", "Will Power and Self Discipline", "Visualize and Achieve" and "Affirmations - Words of Power".
He can be reached at:
Website: http://www.SuccessConsciousness.com
Books: http://www.successconsciousness.com/ebooks_and_books.htm
to find more articles and books filled with inspiration, motivation and practical advice and guidance.
One of his famous book: "Peace of mind in Daily Life", can be found here, for summary.
Saturday, June 02, 2007
Awakening the wisdom and power within you
Saturday, March 10, 2007
I am my happiness
Kebanyakan kesalahan terbesar dari suatu hubungan adalah membuat pasangan kita bertanggung jawab atas kebahagiaan kita dan menyalahkannya apabila kita tidak merasa bahagia. ;)
Ini ada sedikit hal yang menunjang pernyataan diatas, diambil dari (surat cinta) beberapa lagu atau ungkapan yang terkenal pada saat seseorang sedang kasmaran,
diantaranya: Kau membuatku bahagia; Aku merasa sepi tanpa dirimu; Kau adalah duniaku dan masih banyak lagi ungkapan yang menyatakan bahwa orang lainlah yang bertanggung jawab atas kebahagiaan kita atau dengan kata lain kebahagiaan kita berada ditangan orang lain.
Kalau kita renungkan lebih dalam kalimat diatas, ada suatu kekuatan tersamar yang dapat menyebabkan ketergantungan diri kita pada orang lain. Dengan pengertian lain kita berkata bahwa aku tidak bisa membahagiakan diriku sendiri, tapi jika kau bersamaku, kau akan membuat diriku lebih bahagia.If your happiness lies in someone else's hand, you are in for loads of trouble.
--Ann Winters
Pada kenyataannya, adakah diantara kita yang secara sadar mengambil tanggung jawab penuh atas kebahagiaan diri sendiri? sering kita berkata kepada diri kita sendiri? andai istriku seperti ini? ini akan membuatku bahagia apabila suamiku begini? atau seorang istri pernah mengeluh sering stress karena suami suka kerja lembur (pulang telat) atau sering ditinggal keluar kota?
Secara tidak 'kentara' kita menginginkan agar orang lain bertanggung jawab atas kebahagiaan kita. Kita ingin orang lainlah yang berubah seperti keinginan kita, bukan kita yang menyesuaikan.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa pasangan juga yang bisa membuat kita merasa lebih; lebih kuat, lebih tenang, lebih bahagia apabila berada disamping kita. Dia dapat mensupport ketika kita merasa down, ketika kita perlu tempat berbagi Dia-lah solusi terbaik, tempat kita mengeluarkan uneg-uneg dan segala keluh kesah yang sangat dapat dipercaya.
Tapi, harus diingat bahwa itu hanyalah faktor pendukung saja, ketika kita kehilangan atau jauh dari orang yang kita cintai, karena kebiasaan diatas kita jadi limbung, kita merasa kosong, hampa, nelangsa atau dapat dikatakan tidak merasa bahagia, sehingga kita seperti kehilangan pegangan, seperti anak ayam yang kehilangan induknya. 
Memang pada saat-saat normal, kita bisa berfikir dengan jernih tapi apabila kita sedang dalam tekanan yang tinggi, sumpek dan stress, kita sangat membutuhkan teman untuk berbagi? kemana solusinya? 
Dari sinilah kita harus belajar memperkuat diri kita sendiri dan menanamkan keyakinan yang kuat bahwa kebahagiaan adalah terletak didalam diri kita sendiri, kitalah yang bisa menciptakan kebahagiaan versi kita sendiri, bukanlah tergantung dengan keadaan diluar dari diri kita.
Jadi dengan mengambil tanggung jawab atas kebahagiaan diri kita sendiri, kita tidak akan menyalahkan orang lain/pasangan kita dan bisa membuka diri dengan suatu hubungan yang baru yang berdasarkan kepercayaan, kejujuran, tanggung jawab, dan keteguhan/kekuatan hati.
Semoga.
Thursday, March 08, 2007
Dasar Manusia!!!
Banyak dari manusia yang suka merasa khawatir dengan masa depannya, ada juga manusiayang tidak bisa melupakan masa lampaunya, dan sering merasa menyesal, padahal masa depan dan masa lampau adalah masa yang belum kelihatan dan yang sudah dilewati. Seharusnya yang terbaik adalah berkonsentrasi dengan masa sekarang. Masa sekarang adalah kenyataan, bukan mimpi ataupun kenangan. :-?
Manusia sering merasa capek dan lelah ketika memburu angan-angan, sering merasa nervous dan menyesal mengingat masa lalu yang kelam, padahal gak semua yang kelihatan indah itu indah? dan sebaliknya yang kelihatan jelek belum tentu juga jelek?
Terkadang kehidupan di dunia ini menipu, terbalik!!! kalo manusia tidak bisa mencermati manusia akan terbuai, merasa rancu dan tidak tegas. Tapi kenapa juga, kadang2 manusia kok suka ditipu? manusia mengetahui bahwa itu palsu, topeng, tapi manusia pura-pura tidak tahu dan tutup mata?
Ketika manusia berkata jujur manusia lain malah tidak percaya? ketika berbohong malah
dipercaya? susah!!!
Manusia dituntut agar menjadi aktor serba bisa agar tidak terlindas jaman. Manusia dituntut memakai topeng agar bisa tetap eksis, bisa masuk ke golongan manapun? yang pendiam dituntut cerewet, yang cerewet dituntut jadi pendiam? yang bodoh pura-pura pintar dan yang pintar bersikap menyepelekan? yang miskin berusaha tampil agar kelihatan tidak miskin dan yang kaya merendahkan? yang penakut pura-pura jadi pemberani dan yang pemberani mengejek sipenakut, yang tidak termasuk dalam lingkaran berkoar2 diluar sok idealis, setelah di dalam bungkam seribu bahasa!!!
Dasar manusia!!!
Tulisan manusia ditujukan untuk manusia yang masih terus mencoba dan mencari topeng-topeng kehidupan.
PS: Semua manusia tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik sang pencipta manusia semata.
Monday, February 26, 2007
Just forward [Islam-Kristen], Saksi POSO
Semalem lagi blogwalking aku baca postingan tentang conflict POSO yang sebenarnya aku juga tidak mengerti. Iseng ku buka link yang diberikan, tapi setelah menontonnya dan membaca komen pada video tersebut, ada yang mengatakan itu bukan video POSO, tapi sudah bercampur dengan konflik antara suku Dayak dan Madura di Sampit. Video-nya sungguh mengerikan. Bagi yang tidak kuat, mohon jangan dibuka link video-nya! 
Ini mungkin akibat provokasi yang menghasut dan memecah belah, baik itu antar umat beragama, maupun suku dan ras. Aku yakin semua agama (Moslem, Christian, Hindu, Sikh, Budha) mengajarkan cinta damai dan kita semua (suku apapun dan ras apapun pasti sangat mencintai perdamaian.
Bagaimana negara kita mau maju kalo terus ribut antar kita sendiri? 
Link yang kubuat ini hanya mem-forward bagi yang ingin mengetahui dan begitu menyedihkannya akibat dari suatu konflik. 
Artikel tentang POSO,
[Islam-Kristen] Saksi Poso, Habib Rizieq, Abubakar Baasyir, Yusuf Kalla dan Rekaman Video Yang Menjijikkan
Merenung tentang POSO
Video POSO from YOUTUBE
Jadi marilah kita bersama-sama berfikir jernih dan jangan mudah terpancing/ terprovokasi dengan isu-isu SARA yang menyesatkan dan tidak bertanggung-jawab. 
Sunday, February 04, 2007
Pengalaman sebagai manusia.
Foto diambil dari sini
Ada sebuah ungkapan menarik dari seorang filsuf Perancis, Teilhard de Chardin, ''Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi.''
Manusia bukanlah ''makhluk bumi'' melainkan ''makhluk langit.'' Kita adalah makhluk spiritual yang kebetulan sedang menempati rumah kita di bumi. Tubuh kita sebenarnya hanyalah rumah sementara bagi jiwa kita. Tubuh diperlukan karena merupakan salah satu syarat untuk bisa hidup di dunia. Tetapi, tubuh ini lama kelamaan akan rusak dan akhirnya tidak dapat digunakan lagi. Pada saat itulah jiwa kita akan meninggalkan ''rumah'' untuk mencari ''rumah'' yang lebih layak. Keadaan ini kita sebut meninggal dunia. Jangan lupa, ini bukan berarti mati karena jiwa kita tak pernah mati. Yang mati adalah rumah kita atau tubuh kita sendiri.
Kalau kita renungkan secara mendalam ungkapan filsuf diatas, tentu kesadaran yang besar akan muncul didalam diri kita. Bahwa kita di muka bumi ini hanyalah sedang 'dimanusiakan' dan sampai tiba waktunya nanti kita pun akan kembali ke wujud semula dan diminta segala pertanggungjawaban selama menjadi manusia.
Karena kita sedang dimanusiakan maka 'sementara' kita dipinjamkan akal dan nafsu, akal yang membuat kita bisa berfikir dan belajar, sedang nafsu diberikan kepada kita untuk melihat sejauhmana kita bisa menggunakan akal atau menurut pemikiranku sebagai penyeimbang dari akal.
Tinggal cara kita bagaimana memanage keduanya selama menjadi manusia,
Tapi kenapa sering kali akal/fikiran dikalahkan sama nafsu!!
Apakah karena persentase nafsu lebih besar berada didalam tubuh kita, ibarat sebuah perusahaan kepemilikan sahamnya lebih dari 50% ditubuh kita???
sehingga begitu mudahnya dia menguasai kita dan membuat kita tak mampu untuk menggunakan akal.
ahh.. mungkin aku belum mampu untuk menjawabnya sekarang dan aku serahkan sama waktu untuk menjawabnya.
Kehidupan dimuka bumi ini dengan segala pesonanya memang sering melenakan kita sehingga terbuai dan lupa wujud asal.
padahal kita juga diberikan qalbu, qalbu inilah sebenarnya yang hakiki yang tidak bisa dibohongi, yang bisa menembus segala keterbatasan sebagai manusia...
Qalbu inilah juga yang masih melekat seandainya kita sudah dipecat menjadi manusia...
Hmmm... seandainya kita selalu ingat bahwa kita bukan manusia??? tapi kita adalah makhluk spiritual yang sedang dicoba menjadi manusia.
Semoga.
Artikel Cak Nun: Gusti Allah tidak "ndeso"
Foto diambil dari sini
Ada artikel menarik dari Emha Ainun Nadjib : Gusti Allah tidak "ndeso"
Didalam artikel tersebut Cak Nun ditodong pertanyaan beruntun?
"Cak Nun", kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?".
Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan". "Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?", kejar si penanya. "Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu", jawab Cak Nun. "Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak" , katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi". Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di masjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.
Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.
Seraya balik bertanya, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"
Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga.
Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.
Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.
Idealnya memang, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.
Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.
Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi.
Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.
Sedikit mengomentari dari artikel Cak Nun diatas, ini sering terjadi didalam masyarakat kita. Yang sering sangat menjunjung tinggi nilai keagamaan tapi untuk nilai kemanusiaan sering diabaikan dan menutup mata.
Kita sering egois dalam beragama dan sangat menjunjung tinggi hubungan secara vertikal tetapi terkadang kita lupa hubungan secara horizontal, dan juga terlalu fanatik yang berlebih-lebihan sehingga sering menyimpulkan sepihak bahwa agama kita adalah agama yang paling benar dan menyerang membabi buta agama lain dengan tindakan yang brutal dan biadab.
Padahal aku sangat percaya bahwa Tuhan itu MAHA ESA, SATU, TUNGGAL.
Gak ada perbedaan antara Tuhannya umat Islam dengan Tuhannya umat Kristiani, Hindu, Budha, Sikh, dan agama2 lainnya, cuma caranya saja yang berbeda-beda.
Temen kuliahku dulu juga pernah bertanya? kebetulan dia beragama Kristen Protestan dan dia mendengar didalam ajaran agama Islam, selain Islam semuanya akan masuk neraka.
Berapa persen penduduk muslim di dunia ini dan berapa persen juga jumlah penduduk non muslim di dunia ini tanya dia? Diapun berargumen seandainya kamu lahir dari keluarga non muslim apakah kamu akan menjadi muslim?
Ya, yang penting, aku sangat menghormati agama mu dan sangat tidak mau untuk memaksakan seseorang dengan agama yang saya anut.
Dan alangkah damainya dunia ini seandainya kita semua bisa saling memahami dan menghormati perbedaan-perbedaan dalam beragama, karena toh tujuannya cuma satu.
Sebagaimana cerita diatas bahwa 'tingkah lakulah' yang mencerminkan keberagamaan seseorang.
Semoga.
Thursday, January 18, 2007
Perenungan Kecil.
Tertarik dengan kalimat mas kw & mbak kenny bahwa setiap manusia itu 'unik' gak ada dua orang yang persis sama walaupun dia kembar, pasti ada sifat dan perilaku yang berbeda.
Tapi, menurut aku setiap manusia mempunyai kesamaan yang mendasar yaitu:
keinginan untuk diakui, dipuji, didengarkan dan dihormati.
*sorry: pengamat manusia neh hehehe*
Dan manusia bukanlah sekedar makhluk fisik yang hanya membutuhkan makanan dan minuman tapi juga makhluk spiritual dan biologis!!!
yang membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bermakna...
butuh penghargaan dan pengakuan mengenai keberadaannya,
dan juga butuh kasih sayang dan belaian...hohoho (jablay neh sekarang)
tapi, terkadang untuk memberikan kebutuhan spiritual yaitu pengakuan dan penghargaan berupa pujian yang tulus adalah bukan hal yang mudah bagi orang-orang tertentu???
kenapa mereka malah jauh lebih mudah mengeritik dibanding memuji!!!
Seorang teman pernah mengatakan:
bukannya saya tak mau memuji tapi nanti bisa membuat dia besar kepala!!!
yang lainnya mengatakan kalau saya memuji akan kehilangan daya kritis saya!!!
malah ada yang mengatakan saya benar-benar tak tahu apa yang harus dipuji dari dirinya gak ada sedikitpun hal menarik dari dirinya!!! pfiuhhh.... weeekkk!!!
Persoalannya mengapa kita begitu sulit memberikan pujian pada orang lain???
Menurut aku kesemuanya berakar dari sudut pandang kita terhadap orang lain...
sekali lagi! betul bahwa semua manusia itu 'unik', tak ada dua orang yang akan persis sama!!
Tapi terkadang dalam bergaul kita sering hanya melihat seseorang derdasarkan kacamata kita sendiri.. *mengukur baju di badan: orang palembang bilang*...
Kita sering menyamaratakan orang sehingga membuat kita tak tertarik pada orang tersebut. Padahal setiap orang itu berbeda, kalau kita menyadarinya maka kita akan berusaha mencari daya tarik dan 'inner beauty'nya. Dengan demikian kita akan lebih mudah untuk memberikan pujian.
Biasanya penyakit yang kita alami, apalagi terhadap orang-orang yang sudah berinteraksi bertahun-tahun dengan kita adalah biasanya dia lagi, dia lagi!!!
atau bahasanya rey lu lagi, lu lagi!!!
Artinya kita sudah merasa paham, tahu dan hafal betul mengenai orang tersebut...
Kita menganggap tak ada lagi sesuatu yang baru dari mereka, karena itu dihadapan kita mereka telah kehilangan daya tariknya... ???
bandingkan waktu kita baru berkenalan dengan seseorang atau misalkan baru berpacaran...
terasa sekali bahwa dia begitu menarik!!!
karena masih ada 'sesuatu' yang disembunyikan dan ditutup-tutupi... ;)
tapi begitu sudah menikah, lambat laun 'sesuatu' terlihat aslinya dan tidak ada lagi yang ditutup-tutupi... biasanya akan kehilangan daya tariknya!!! bener gak??
Sering juga sambil bergurau istri berkata,
masa paling enak adalah waktu masih dalam masa pengejaran.. *pacaran*
dia merasa diperlakukan bagai seorang ratu..hohoho
segala keperluan dan perhatiannya terpenuhi..
beda dengan sudah menikah!!!
sambil bergurau juga aku balas...
ya jelas karena sekarang apa yang diinginkan sudah didapat
huahaha... :p
dan dia ngomong bahwa sekarang mesranya/perhatiannya kalo sedang 'butuh' aja!!!...
*huahah.. sensor-red bagi yang masih bujangan or single*
sambil berkelakar aku jadi mikir betul juga apa yang dibilang sama istri!!
karena merasa sudah dimiliki terkadang kita lupa sama hal-hal yang kecil dalam bentuk perhatian dan pujian!!!
Semoga...
Narsisme

Istilah diatas baru saya ketahui waktu saya baru mulai ngeblog, sebelumnya saya gak tau apa arti istilah diatas, tapi setelah sering blogwalking dan membaca blog orang lain jadi ngerti sendiri apa itu narsisme.
Narsisme itu sendiri berasal dari narcissus, seorang tokoh mitologis dari Yunani yang jatuh cinta kepada dirinya sendiri. Tiap kali memandang dirinya di permukaan air, Narcissus kagum akan ketampanan wajahnya.
Berdasarkan dari itu apabila kita terlalu mengagumi diri sendiri itu sering di bilang narsis!!!
Menurut aku, setiap orang normal itu mempunyai naluri untuk narsis...
dan bagiku itu adalah wajar!!!
bagaimana kita bisa mencintai orang lain kalau kita tidak bisa 'mencintai/mengagumi' diri sendiri.
Terkenang pengalaman temen waktu masih di esema dulu yang mana pada saat itu dia sangat tidak mengagumi dirinya sendiri...
pada masa itu temen saya tersebut sangat lah tidak peduli dengan dirinya sendiri, mau jadi baik kek.. rusak kek.. peduli amat!! kira-kira begitulah yang ada dalam otaknya..
tiap hari kerjanya hanya mabuk, buat keonaran, melawan guru dan lain-lain yang menyebabkan orang lain jadi benci dan takut padanya...
ya dia memang punya temen, tapi temen-temennya setipe sama dia.. sekelompok kecil yang bertabiat sama.
setiap hari sebelum masuk kelas, dia pasti ngeboat/nyimeng dulu minimal satu butir atau beberapa hisap.. biar tenang dan kepercayaan dirinya meningkat.. *katanya*..
dengan begitu dia merasa dialah yang paling jago dan tidak takut sama siapapun.. karena pengaruh obat/cimeng.. jadi apabila dia tidak menggunakan salah dua tersebut.. maka kepercayaan dirinya kurang dan menjadi seorang pemalu.. *tapi aku suka pada saat dia sedang tidak dalam pengaruh, kesannya pemalu dan menarik diri*
dibanding saat dia sedang make'.. kelakuannya sering gak terkontrol dan semaunya..
jadi teringat dengan temen saya diatas.. pada saat itu dia benar-benar tidak mengagumi dirinya sendiri, merusak dirinya sendiri..
so bagaimana orang mau kagum, peduli atau mau sayang dengan dirinya.. sedangkan menghormati, menyayangi dan mengagumi dirinya sendiri dia tak mampu!!!
ya, semenjak tamat esema aku gak tau lagi kabar beritanya gimana??
mudah-mudahan dia sudah insyaf dan kembali kejalan yang benar...
merujuk cerita diatas, jadi bagi saya narsisme itu diperlukan!!!
lihatlah orang-orang sukses..
mereka semua rata-rata narsis,
mengagumi dan mencintai dirinya sendiri dan keluarganya...
lihatlah juga temen-temen blog...
diblog mereka menunjukkan kenarsisan mereka,
dengan berani menceritakan seperti apa dirinya dan keluarganya..
bisa dibandingkan dengan temen saya diatas???
jadi menurut saya salah satu jalan untuk sukses adalah belajar untuk narsis terhadap diri kita sendiri, dan jangan malu tapi tentunya narsis dengan jalan yang benar...
tunjukkan prestasi apa adanya dan punyailah 'jiwa marketing' diri sendiri dan bukan hanya fisik belaka.
semoga.
P.S:
Keinginan dasar yang dimiliki setiap orang normal adalah keyakinan bahwa dirinya berharga dan dibutuhkan orang lain, pemuasan ego, merasa diri penting.
Friday, January 12, 2007
Hasrat Untuk Berubah

Terkadang kita tidak menyadari kesalahan diri kita sendiri dan sering kita selalu
mengkambinghitamkan orang lain atau melempar kesalahan pada orang lain.
pernah denger joke begini gak?
Ada seorang pasien yang sedang berobat ke dokter dan mengemukakan keluhannya, setelah memeriksa sang pasien kemudian dokter mengatakan: Baik aku sudah memeriksa keluhan anda, sekarang aku sudah mengerti penyakit anda. Anda tahu apa yang akan saya lakukan? Saya akan menulis resep untuk tetangga anda!!!
Sang pasien tertawa lega, Terimakasih dokter, Apa yang telah dokter katakan membuat saya merasa jauh lebih baik!!!
Bisa mengambil inti gak dari joke diatas??? :)
Cerita diatas sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita sering menghadapi masalah, tetapi beranggapan bahwa akar permasalahan ada pada orang lain. Jadi supaya masalah kita selesai, orang lainlah yang harus berubah. Merekalah yang harus diobati dan disembuhkan.
Pertanyaannya bisakah kita mengubah orang lain? bisakah kita mengubah temen, saudara, rekan kerja, bawahan, pasangan kita???
Menurut aku pribadi tidak bisa!!!
Kita tidak bisa mengubah siapapun!!! kita hanya bisa mengubah diri kita sendiri.
Kala aku muda dan bebas berkhayal,
aku ingin mengubah Dunia.
Sejalan dengan bertambah usia dan kearifanku,
Kudapati dunia tak kunjung berubah.
Maka cita-cita itu pun kupersempit,
dan kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku,
namun itu pun tampaknya tiada hasil.
Ketika usiaku semakin senja,
dengan upaya terakhir penuh putus asa,
kuputuskan untuk mengubah keluargaku semata,
orang-orang terdekat denganku.
Tapi malangnya, mereka pun tak mau diubah.
Dan kini, saat terbaring menanti ajal,
tiba-tiba kusadari:
Andai yang pertama kuubah diriku sendiri
dengan menjadikan diriku teladan
mungkin aku dapat mengubah keluarga.
Lalu berkat ilham dan dorongan mereka
aku pun mampu memberbaiki negeriku.
Dan siapa tahu, bahkan akupun dapat mengubah dunia.
(dari buah Karya seorang Bishop Anglikan, pada tahun 1100 Masehi, tertulis di ruang pemakaman Wesminster Abbey)
Seorang filsuf diatas yang seumur hidupnya mencurahkan waktu dan energinya untuk mengubah dunia, akhirnya mengakui bahwa ia tidak dapat mengubah dunia.
Dunia tidak dapat diubah, kalau saja ia mencurahkan waktu dan energinya untuk mengubah diri sendiri, ia akan mendapat hasil yang jauh lebih baik.
"Everybody thinks of changing the world, but nobody thinks of changing himself."
-- Leo Tolstoy (seorang filsuf asal Rusia)
Mengubah orang lain memang sulit. Bahkan semakin kita berusaha mengubah akan semakin buruk hasilnya...
jadi inget pengalaman waktu kecil, semakin keras orang tua melarang maka semakin pingin aku melakukan apa yang dilarang tersebut!!! :p (ortu sangat keras dan galak!!! baca: disiplin)
INTERMEZZO:
Aku juga inget waktu baru menikah dan ingin istri pake jilbab, alasan utama dulu karena aku lebih merasa aman kalo isteriku pake jilbab apabila dia keluar rumah sendirian, dalam pikiranku orang lain akan segan untuk mengganggu dan berbuat usil dengan wanita berjilbab...
Waktu ku kemukakan dia merasa berat karena selain harus menyesuaikan semua pakaian yang ada dan juga kalo sudah pake' malu kalo dilepas lagi!!! *contoh: temen dia*
jadi menurutnya sekali pake jilbab ya untuk seterusnya!!!
Jadi pada saat ingin 'mengubah' istri untuk menuruti kemauan kita, aku juga terlebih dahulu harus mengubah diriku sendiri!!!
yaitu dengan berjanji untuk:
tidak lagi melirik2 wanita pake' pakaian seksi kalo di jalan!!! (isteri sering protes)
dulu waktu pacaran aku juga seneng kalo dia pake' pakaian seksi n ketat.. suit2.. hehe *dasar bejat*
SERIUS LAGI YA...
Karena itu cara terbaik adalah dengan mengalir bersama. Seandainya kita ingin melakukan perubahan pada orang lain bisa kita tawarkan terlebih dulu perubahan yang harus kita lakukan.(Win-win solution)
Kita tak perlu melawannya apalagi memaksa, otoriter dan segala macam tindakan yang bersifat harus!!!
Kita cuma perlu memahaminya, dengan memahami kita bisa mengetahui apa penyebab penolakan tersebut, apa alasan utama orang enggan berubah. Dengan memahami, kita dapat menyesuaikan perilaku kita sehingga lebih mampu mempengaruhi orang lain.
Inilah sebenarnya kuncinya, kita tidak mungkin dapat mempengaruhi seseorang sebelum benar-benar memahami orang tersebut!!!
Masalahnya, terkadang memahami orang lain itu sulit!!!
Upaya pemahaman seringkali terhambat oleh proses pengkondisian yang sudah kita alami dari kecil...
konsep-konsep kita tentang orang tersebut, 'kategori' dan 'label' yang kita berikan, persepsi dan prasangka kita dan sebagainya. Untuk bisa memahami dengan baik artinya kita perlu menyingkirkan dahulu semua bentuk pengkondisian tersebut!!!
Hal terpenting yang perlu kita pahami adalah bahwa kita tak dapat mengubah orang lain. Hanya orang tersebutlah yang dapat mengubah dirinya sendiri!!!
INTERMEZZO LAGI YA:
Istriku pingin aku berhenti merokok dari dulu semenjak pacaran tapi selalu saja ada alasan ku untuk menolak permintaannya: (aku sudah merokok dari kelas 1 sma = merokok rutin)
"yang rokok adalah temen sejati dikala senang maupun sedih, *halah*
kalo sedang lembur dan banyak tugas rokok memberi inspirasi, *taelah*
sebagai lambang pergaulan dan kejantanan, *memang hewan*
rata-rata temen kantor/temen akrab pengudut berat, *alasan*
apalagi kalo sehabis makan wuihhh gak kuat kalo gak merokok... pussssss!!!"
sampe sempet aku berjanji kalo sudah menikah aku baru berhenti tapi lagi2 kulanggar dan mengajukan deal2 yang baru kalo sudah punya anak baru berhenti...
akhirnya istri bosan dan gak bisa menyuruh aku berhenti merokok!!!
(sering marah-marah gara-gara merokok ini) dia akhirnya cuma bilang kalo merokok harus jauh dari dia dan gak boleh dikamar dan diruang keluarga (ruang tivi), jadi pada saat itu kalo mau merokok ya aku harus keluar rumah di teras or didapur...(biar jangan ribut)
tapi sekali-sekali kulanggar juga kalo dia sudah tidur, malem aku nonton tivi sendirian sambil ngudut n ngopi... hihihi
tapi, sekarang setelah aku jauh dari isteri dan dikarenakan ketatnya anggaran uang saku yang didapet (allowance) serta rokok yang ada disini pun kurang enak
(rokok indonesia mahal bisa 3 kali lipat: djisamsoe dan sampoerna mild disini dijual 18 ribu perbungkus malah ada yang 20 ribu), akhirnya aku memutuskan sendiri untuk berhenti merokok!!!
pertama-tama memang berat dan banyak godaan (lingkungan disini perokok),
tapi aku sdh 'tekad' dan inget 'janji' sama istri kalo sudah punya anak akan berhenti merokok. (anakku lahir saat aku sedang disini)
awalnya temen-temen disini tidak yakin, paling lama bertahan 1 bulan gak merokok katanya..
tapi karena sudah tekad (kapan lagi kalo gak sekarang??) dan karena kondisi mendukung buat saya (allowance ngepas, rokok disini gak enak dan rokok indonesia mahal)
akhirnya... alhamdulillah sudah 10 bulan aku tidak lagi menyentuh satu batang rokok pun!!!
walaupun sering disodorin rokok gratis...
dan diolok-olok wuih enaknya kalo habis makan ngudut :p
tapi aku berusaha untuk tetap konsisten.
dan mudah-mudahan setelah pulang nanti aku pun tetep bisa konsisten.
Jadi, sekali lagi yang perlu dipahami adalah bahwa kita tidak dapat mengubah orang lain, hanya orang tersebutlah yang dapat mengubah dirinya sendiri. Peran kita dalam hal ini hanyalah membantu membuka pikiran, wawasan, dan pandangan mengenai berbagai pilihan yang dapat diambil agar orang menjadi lebih baik.
Dengan tambahan wawasan, pengetahuan orang akan berubah, tetapi hal itu sama sekali tak menjamin perubahan perilaku. Orang berubah bukanlah karena mendapatkan pengetahuan tetapi karena mengalami kesadaran. Ada perbedaan mendasar antara mengetahui dan menyadari.
Perubahan memang sulit dilakukan, dan hanya kitalah yang dapat melakukannya. Tetapi perubahan yang sejati hanya dapat terjadi didalam diri kita sendiri dan bukan dari faktor-faktor eksternal.
P.S.:
Faktor-faktor eksternal hanya berfungsi sebagai pendukung, bisa diumpamakan dengan perahu layar, apabila mendapatkan angin yang kuat pada layarnya maka akan semakin cepat perahu tersebut berlayar. :)
Thursday, December 28, 2006
Membaca pikiran dan menilai orang lain

Banyak orang mengira dengan mengetahui atau membaca pikiran orang lain akan membuat dirinya menjadi lebih efektif.
Ini sebenarnya tidaklah benar!!!
Karena kalau anda mengetahui dan mengenal diri anda sendiri dengan baik ini yang lebih efektif.
Jika kita tidak 'berusaha' membaca/merasakan/menilai sesuatu...
tetapi,
secara sederhana belajar untuk melihat segala sesuatu seperti adanya...
maka kita akan melihat semuanya seperti adanya mereka...
"you will see things that the way they are"...
atau dengan bahasa lain kita akan melihat mereka secara "manusiawi"...
*dengan segala kelemahan dan kelebihannya*
But if you make an effort to read people's minds-maybe sometimes you will, because after all you do have a mind-you can read certain things, you have perception, you can judge, but these judgments, what will you do with them???
Jadi ini bukanlah penilaian atau kemampuan membaca pikiran, ini adalah pengertian yang 'mendalam' tentang kehidupan!!!
Andaikan ketika pertama kali kita ketemu seseorang, kita akan menghormatinya bukan???
itu karena kita tidak memberikan penilaian sebelumnya!!!...
Sekali lagi, tidak ada manusia yang 'constant'!!!
Hari ini mungkin dia kelihatan menjengkelkan tapi mungkin besok pagi dengan 'mood' yang baik dia akan kelihatan begitu menawan.
tapi jika kita sudah membaca dan menilai sebelumnya dengan penilaian yang negatif, maka kita tidak akan dapat melihat dia sebagaimana adanya 'dia'.
P.S: Sekali kita membaca dan menilai seseorang sebenarnya kita sudah terperangkap!!!
jadi jangan pernah men-cap seseorang dengan embel2 tertentu,
sebab hanya ada dua kemungkinan dasar, yaitu baik dan jelek!!!
Segala sesuatu yang kita nilai baik secara alami kita akan menyukainya dan memujanya tapi, jika seseorang yang kita nilai jelek maka secara alami pula kita akan menolak dan menjauhinya, dan yang sering tanpa kita sadari adalah emosi negatif ini juga akan mempengaruhi kita sendiri untuk berlaku sama!!!
"So there is no need to judge.
You just have to judge situations.
You don't have to judge people. "
Thursday, December 21, 2006
Fobia dan Rasa Takut
Hampir semua orang pernah menderita sejenis fobia atau rasa takut. Hal itu menurut aku normal dan tidak serius selama tidak menghalangi fungsi dalam pergaulan sehari-hari atau tidak menyebabkan kehidupan menjadi menderita.
Fobia dan rasa takut yang dialami setiap orang berbeda-beda bentuknya misal bisa fobia terhadap ketinggian, kegelapan, keramaian, lift, anjing, cacing, polisi, dokter dan sebagainya.
Tetapi, walaupun terdapat jenis fobia dan rasa takut yang berbeda-beda, menurut aku mereka memiliki kesamaan yaitu biasanya berhubungan dengan semacam trauma atau kecelakaan. Selain itu juga adalah kebiasaan/hasil dari didikan/program yang telah ditanamkan di bawah sadar kita sejak dari kecil.(b'tul gak??)
Aku ingin bercerita sedikit tentang fobia atau rasa takut yang dialami seorang temen yang menurut aku sayang gak dimanfaatin...hihihi!!!
Sebutlah nama temen ku ini Iwan (maaf bagi temen-temen yg kebetulan namanya sama), ceritanya temen sma dulu. Iwan ini termasuk laki-laki yang 'ideal' dalam segi penampilan maupun intelektual. Postur tubuhnya yang tinggi atletis dan tampang acuhnya sering membuat cewek2 di sma kita dulu berebut mencari perhatiannya.
Dari segi pelajaranpun Iwan ini unggul alias selalu masuk 5 besar di kelas tapi masih dibawah saya... hehehe (bercanda-red)
tapi si Iwan ini punya satu kelemahan yaitu fobia atau takut sama yang namanya cewek... bingung kan cakep2, pinter, jadi rebutan cewek2 tapi 'keringetan' kalo deket perempuan...
Aku juga gk habis pikir???... sudah punya wajah cute, bodi atletis n pinter lagi tapi ko' takut sama makhluk yang paling mengasyikkan sedunia...hihihi
sekedar info: sampe sekarang temen saya itu masih membujang.
P.S.:
Itulah yang namanya 'keseimbangan' makhluk yang diberi karunia fisik yang lebih tapi mempunyai kelemahan dari sifat yang tertutup n kelihatan susah bergaul... sedangkan temen2 yang punya tampang biasa2 saja tapi supel dengan gampangnya mereka mendapatkan cewek2 yang cakep n bergonta-ganti pacar...
Catatan Pinggir:
Kalo aku waktu kecil fobia sama DOKTER!!!... pokoknya takut kalo liat dokter beserta segala macam peralatannya... NGERIII!!!
kalo sekarang aku fobia sama yang namanya 'LONELINESS'... hiks... rupanya gak enak kalo sepi n jauh dari orang-orang yang kita cintai...
n adalagi yaitu: BOKEK!!! alias gak ada duit... hehehe... mungkin sama dengen temen2 yang lain??
so bagi2 lah ceritanya disini... :)
Sunday, December 17, 2006
Ego...
Kalimat diatas mengingatkan aku pada waktu sma dulu, dimana pada masa itu ego sdg sangat berkuasa di dalam diriku. Pada masa itu pokoknya tidak ada satupun yang ku takuti...
atau semua ku lawan kalo ada yang tidak sesuai dengan diri ku, termasuk guru dan ortu.
Aku pun tidak mengerti kenapa dulu bisa begitu 'nakal'nya???
selain nakal juga bersifat 'agak' kriminal???
(hehehe belum kriminal penuh, masih amatiran)
Mungkin karena sedang mencari identitas diri ato kurang perhatian aku juga tak tahu... tp pd saat itu masih jelas ucapan beberapa temen sma dulu... mereka bilang aku keliatannya seperti orang 'stress'... so mereka pd takut untuk 'berurusan' denganku. (dughhhhh..betapa 'menakutkannya' diriku dulu)
Aku juga masih inget berapa kali ortu dipanggil ke sekolah gara-gara perbuatanku. Bermacam-macam persoalan yang kubuat dari berkelahi, minggat (bolos) sekolah, mabok (cimeng, minum n ngebo'at... pada waktu itu belum ada yg namanya ekstasi,shabu2... cm ada seperti nipam, magadon, etc), ketangkep gara2 pake wig (rambut palsu) sampe melawan guru. (ada beberapa kasus yg tdk aku ungkap disini krn tidak layak)... Dan rasanya kasus terakhir yang hampir menyebabkan aku dikeluarkan dari sekolah (terjadinya di kelas 3 tahun 1992).
Aku cerita sedikit kasus yang menyebabkan aku hampir dikeluarkan dari sekolah.
Kasusnya sebenarnya sepele, tp bisa jd besar?? Itu sih sebenarnya gk perlu terjadi kalo pd pagi hari itu aku tidak meludah ke luar melalui jendela kelas. Terjadinya pada saat jam pertama, aku yang duduk nomor 2 dari belakang dan dipinggir jendela tanpa sadar membuang ludah... mungkin mulut sedang pahit ato sedang flu aku jg gk inget lagi. Kebetulan aksi membuang ludahku 'tercium' sama guru yang mengajar perempuan n masih gadis. (tp pd saat itu sudah berumur +- 38 tahun).
Aku juga gak ngerti aku yang kurang ajar ato ibu gurunya sedang 'bete'??...
maka aksi ku itu mendapat ganjaran berupa kalimat yang 'fantastis'... yang cukup menyakitkan telinga n membuat malu didepan temen2 sekelas. Kalimatnya sampe menyeret2 nama ortu yang kebetulan berprofesi 'pendidik' juga.
Maka 'ego' ku segera berontak gk terima ortu diseret2... seinget aku gr2 'nyanyian' beliau kepala langsung pusing n tanpa sadar aku langsung menggebrak meja dan membanting kursi!!!... sontak seisi kelas langsung hening gara2 reaksiku tersebut.
begitu selesai melakukan aksi tersebut aku langsung berjalan ke depan menuju meja dimana beliau duduk, temen sebangku ku berteriak manggil nama ku begitu melihat aku menuju meja menghampiri beliau, untung masih terlintas dlm benakku pd saat itu 'pikiran sadar' inget beliau perempuan, kalo gak mungkin sdh lain ceritanya???...
gk jadi aku melampiaskan kesel dgn menggebrak meja beliau, aku hanya lewat...
tapi tanpa sadar juga pintu kelas ku banting begitu aku keluar kelas.
setelah di luar kelas aku langsung menuju kantin yang kebetulan sedang sepi krn sedang jam belajar, aku lgsng memesan kopi n merokok tuk menghilangkan kesal...
tidak sampai sepuluh menit kudengar melalui pengeras suara namaku dipanggil disuruh menghadap kepsek...dughhhhhhhhh!!!!!
rupanya setelah aku keluar kelas, beliau langsung menghadap kepsek dan melaporkan aksi 'kriminal' ku... tak lama setelah nama ku dipanggil, temen sebangku datang menghampiriku dan bertanya mengapa aku berbuat seperti itu. Aku gk bisa menjawab?? cuma ku bilang padanya: ibu '....' hendaknya jangan menyeret2 nama ortu.
Akhir cerita... ortuku berurusan lagi sama BP dan Kepsek!!!...
Hughhhhhh!!!.....
Kalo inget kejadian2 jaman muda dulu (serasa udah tua bener :))... rasanya mungkin gak tamat aku sma...
terlalu banyak kenakalan2 yang kuperbuat yang nyaris membuat aku putus sekolah... kdg2 menyesal telah menyusahkan ortu (ortu maafkan anakmu...) n kadang juga 'bangga' karena aku dulunya ngetop di sma (ngetop karena bejat, he he he)...
P.S:
Ya itulah 'ego' kalo kita tidak bisa mengontrol dan 'berteman' dengannya...ia akan menjadi 'musuh besar' kita. Musuh yang terbesar dan terberat adalah mengalahkan 'diri sendiri'....(serius!!!)
so,
WASPADALAH....WASPADALAH...!!!
Ini ada tulisan bagus tentang EGO, diambil dari sini, bagus untuk direnungkan dan koreksi diri.

Dari dulu saya suka dg adagium Inggris "Simplify Life and Follow the Sun." Sederhanakan masalah, nikmati gemericik air yg mengalir (terjemahan bebas).
Simplifikasi masalah tentu beda dg over-simplifikasi atau terlalu menyederhanakan. Masalah yg kita hadapi sehari-hari akan selalu ada dan secara garis besar dapat dikategorikan dalam dua kelompok.
Pertama, masalah internal. Yakni masalah khas yg dihadapi setiap individu yg tak ada kaitannya dg orang lain. Contoh, jatah beasiswa atau kiriman dari rumah belum datang bagi mahasiswa. Atau konflik rumah tangga bagi yg sudah berkeluarga.
Kedua, masalah eksternal. Yaitu masalah sehari-hari yg berkaitan dg interaksi individu dg individu yg lain.
Berbagai permasalahan baik internal maupun eksternal umumnya adalah masalah kecil, namun tidak jarang itu berupa persoalan besar. Masalah eksternal kecil yg terjadi berulang-ulang juga biasanya akan berujung menjadi masalah besar. Kemampuan kita dalam menyaring mana masalah yg kecil dan mana yg besar akan sangat menentukan "karisma" kita sebagai individu di mata individu yg lain.
Masalah internal tentunya adalah masalah masing-masing individu. Tak ada seorang pun berhak ikut campur, kecuali apabila persoalan internal itu menyeberang garis batas dan menjadi problema eksternal. Sebagai contoh, apabila sikap individu "melanggar" undang-undang tak tertulis dalam komunitas lingkungannya.
Persoalan eksternal sama sekali berbeda. Di sini diperlukan pemahaman tinggi tentang hak dan kewajiban kita sendiri dan, pada waktu yg sama, memahami hak dan kewajiban orang lain.
1. Standar minimal manusia yg "normal" yg berhak disebut "baik" adalah apabila dia menggunakan haknya sama takaran dan persentasenya dg memberi hak orang lain.
Contoh, (a) apabila Anda bercerita sepanjang 5 menit, maka Anda berkewajiban memberi waktu yg sama untuk pendengar cerita Anda tsb. untuk bercerita balik dan Anda menjadi pendengarnya. (b) Apabila Anda menggunakan hak untuk meledek teman baik Anda, maka Anda juga harus memberi hak yg sama pada teman Anda untuk meledek balik. Apakah teman Anda mau menggunakan haknya atau tidak itu soal lain.
2. Standar minimal individu yg berjiwa pemimpin adalah apabila individu tsb lebih ingat pada apa yg mesti diberikan pada orang lain; bukan apa yg orang lain mesti berikan padanya. Memberi tidak dianggapnya sebagai pengorbanan atau aktivitas interaktif, tapi dianggapnya sebagai kewajiban satu arah baginya yg tak perlu menunggu balasan.
Memberi dalam bahasa hubungan interpersonal tentu saja bukan hanya dalam wujud materi, tapi yg terkadang justru lebih penting adalah memberikan ego . Dalam bahasa agama mungkin bisa disebut dg sedekah ego.
Apa itu sedekah ego? Anda tentunya lebih paham. Tapi untuk lebih memudahkan, saya beri beberapa contoh di bawah:
(a) Apabila Anda berbuat kebaikan pada seseorang, tapi tidak ada balasan dalam bentuk apapun dan bahkan, terkadang, mendapat respons negatif. Tapi Anda tidak mengeluh atau tidak membahasnya sama sekali.
(b) Apabila Anda tidak membalas sikap yg menyakitkan dari teman Anda (yg sedang 'menggunakan haknya' itu). Sebaliknya, Anda justru tetap bersikap baik seperti biasa.
(c) Apabila Anda terus berkonsentrasi untuk berbuat sesuatu untuk diri sendiri dan manfaat bersama, tanpa menunggu apresiasi dari pihak manapun dan tanpa sepatah kata keluhan apalagi makian.
(d) Apabila Anda pejabat negara, maka Anda tidak hanya memaksimalkan amanah rakyat itu dg, antara lain, memudahkan urusan rakyat yg memerlukan layanan Anda semudah-mudahnya, lebih dari itu Anda memanfaatkan amanah tsb dg melakukan hal-hal di luar tugas yg dapat bermanfaat bagi rakyat dan negara. Tanpa peduli, apakah segala hal yg baik yg Anda lakukan mendapat apresiasi rakyat atau tidak. Pada waktu yg sama, memberi ruang di hati Anda untuk mendengarkan kritik dan saran dari rakyat, menurut saya adalah sedekah ego terbesar seorang pejabat.
Sulit untuk menjadi pemimpin ideal, atau bahkan sekedar jadi manusia 'baik'. Tapi, berkeingingan menuju pencapaian yg lebih tinggi, tidak hanya bidang akademis & jabatan tapi juga karakter, saya kira bukan sesuatu yg salah.
Wednesday, December 13, 2006
Ketika kita dilahirkan...
Ketika dilahirkan
kita tidak dapat memilih apapun
kita tidak dapat memilih siapa orang tua kita
kita tidak dapat memilih sanak famili kita
kita tidak dapat memilih jenis kelamin kita
kita tidak dapat memilih zodiak kita,
warna kulit kita,
bahkan nama kita
ketika beranjak dewasa
keluarga,
teman,
guru dan
lingkungan (masyarakat) membentuk kita selanjutnya
kita belajar 'bicara' dan mereka mendengarkan
kita belajar 'menghormati'
tanpa harus kehilangan 'kehormatan' diri
kita dipengaruhi oleh lingkungan,
guru,
pekerjaan,
profesi,
televisi,
bahkan berita sehari-hari
tapi,
kita diberi akal,
hati dan
perasaan
kita makhluk yang paling sempurna
kita masih bisa memilih...
kita bisa memilih pasangan hidup,
pekerjaan,
teman-teman dan
lingkungan kita,
kita pun bisa memilihkan nama yang baik untuk anak kita,
mendidiknya dengan baik,
menjadikan diri menjadi teladan dan contoh yang baik,
membuatnya bangga menjadi anak kita.
semoga...
Amin ya robbal alamin.Cool Slideshows
dedicated to Atthallah Putra Ramadhan
(born on 08 oct 2005)
Wednesday, October 25, 2006
RESPECT
The first respect is to respect myself-to know that I am naturally valuable,
Part of self-respect is knowing my own qualities.
Respect is knowing I am lovable and capable,
Respect is listening to others,
Respect is knowing others are valuable too,
Respect for the self is the seed that gives growth to confidence,
When we have respect for our selves it is easy to have respect with others,
Those who shows respect will receive respect,
To know one’s worth and to honor the worth of others is how one earns respect,
Part of respect is knowing I make a difference.
Wednesday, October 18, 2006
If you are a parent

If you are a parent, you have many aspirations for your child that may include him or her becoming a doctor, an engineer, scientist or another kind of successful professional. I believe these aspirations are driven by your thinking about your child's future, and her centrality in your life.
Since good education is often the passport to a good foture, I presume it leads you to getting your child admitted to a good school. Then you encourage your child to study hard and do well in school exams. To bolster this, you send him or her for tuition classes. This would have primed your child for board exams and entrance exams, thereby leading to admission into a good professional course. Doing well at college increases the probability of landing a good job. And a good job means the child's future is ensured.
I think that these aspirations and actions might be doing more harm than good to your child. To understand why, we need to re-examine some of our fundamental assumptions.
In the first place, I have seen time and again that living for some distant future goal also means you do not live in the present. The distant goal will always translate into an external measures of success, such as exams. And most exam-focused chlidren start forgetting what it means to be a child - to be curious, mischievous, exploring, falling, getting-up, relating, discovering, inventing, doing, playing.
Childhood is very precious; precious enough not be wasted by the artificial pressures of contrived competition, by too many hours of bookish study, and by school report cards that simplistically wrap up an entire human being in numbers.
The second assumption is that education is merely a ticket to socio-economic success. Given the state of or country, this reality cannot be ignored. But restricting education to only this aspect is, I think, a very limiting notion of the aim of good education. The primary purpose of school is to guide the child in her discovery of her self and her world, and to identify and nurture the child's tallents. Just as every seed contains the future tree, each child is born with infinite potential. Imagine a school which sees children as seeds to be nurtured - here the teacher is gardener who helps to bring out the potential already present in the child.
This is very different from the current view which sees the child as clay to be moulded - where the teacher and parents are potters deciding what shape the clay should take. There is an old (and forgotten) Chinese saying: "Give a seed to a potter, and you will get a bonsai."
Even in a commercial organization, to make profits we do not have to chase profits. Rather, we need to build an institution that gives every employee an opportunity to do meaningful and fulfilling work.
Create an organization driven by values of innovation, integrity, customer centricity and care. And as you practise these values everyday and moment, you will see that the profits take care of themselves.
Similarly, dear parent, this is my request to you. Do not give up your child's present to secure his or her future. Give your child the freedom to trully explore life with abandon. In doing this, you will see your child flower into a creative and sensitive human being. And when this happens, everything else - money, social, success, security - will fall into place automatically.
Please, let your child be a child.
Thursday, October 12, 2006
Focus...

teach me how to focus?
i loose focus through out the day everyday and it takes alot of energy to stay focused and i can only do it for a limited amount of time, and it hurts my relations with others when im not focused i dont connect to them as clearly and it needs to stop i need to learn how to stay focused. i could use some help. thanks
Answer :
This is one of the way to focus...
Just only see and concentrate...
just keep practising and u can get what u want...
Good Luck... ;)
Wednesday, September 27, 2006
Mar haban yaa ramadhan...

If there is a day, There Must Be a night
If there is a black, there must be a white
If there is a mistakes, there must be forgiveness...
Mata kadang salah melihat....
Mulut kadang salah berucap....
Hati kadang salah menduga.....
Maafkan segala kekhilafan yang pasti ada....
===== Mohon Maaf Lahir dan Bathin ======
MAR HABAN YAA RAMADHAN
Assalaamu'alaikum wr.wb..
Marhaban ya Ramadhan,
Bulan dimana nafas kita menjadi tasbih, tidur kita menjadi ibadah, amal kita diterima dan do'a kita di ijabah,
Sungguh cantik kain plekat, dipakai orang pergi ke pekan.
Puasa Ramadhan semakin dekat, silap dan salah mohon dimaafkan
Berharap padi dalam lesung, yang ada cuma rumpun jerami,
harapan hati bertatap langsung, cuma terlayang e-mail ini.
Sebelum cahaya surga padam, Sebel um hidup berakhir,
Sebelum pintu tobat tertutup, Sebelum Ramadhan datang,
saya mohon maaf lahir dan bathin....
Taqqobalahu Minna Waminkum, Taqoballahu Ya Karim,
Marhaban Ya Ramadhan
Allaahumma baariklanaa fi Sya'ban wa ballighnaa Ramadhan
Ya Rabb, berkahi kami pada bulan Sya'ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan,
Aminn.
" Do'a Malaikat Zibril Menjelang Ramadhan "
"Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
* Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
* Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami istri;
* Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. Dapat kita bayangkan, yang berdo'a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat, dan dilakukan pada hari Jum'at.
Friday, September 22, 2006
Integritas Diri
Dibawah ada sedikit renungan tentang integritas diri.
Dewasa ini; di zaman yang serba instan dan level persaingan yang tinggi, kita sering 'lupa' dan terjebak dengan identitas diri yang palsu dan bertopeng.
Ada baiknya, kita semua dapat ber-refleksi sejenak dengan membaca artikel dibawah ini. Dan mudah2an kita akan semakin tahu dan mengenal jati diri kita yang sebenarnya, dengan memiliki kepribadian yang utuh, bukan berkepribadian ganda!
Selamat membaca.
Integritas Diri
Untuk sebuah pujian dan "pengakuan" dari orang lain, manusia sering tergoda untuk hidup bertopeng. Hasilnya, terciptalah mentalitas "seolah-olah". Palsu..!
Lain di kata, lain di hati; lain di sini, lain di sana.
Agar dapat diterima oleh lingkungan, manusia cenderung bersikap kompromis dan konformis, "membebek" dan "mem-beo"; melacurkan kebenaran dan keyakinan, asal "selamat" tega berbuat laknat.
Hidup tanpa integritas diri.
"Integritas" berasal dari kata integrity yang artinya utuh atau bulat. Dari kata ini kita mengenal istilah "integral", yang berarti:seutuhnya, dan "integrasi", yang berarti: penyatuan.
Para psikolog mengatakan bahwa manusia mempunvai 4 dimensi dasar: fisik, mental, sosial dan spiritual. Jika keempat dimensi dasar tersebut diberi perhatian, digembleng, dan dikembangkan hingga mencapai kematangan yang seimbang, maka
akan menghasilkan kepribadian yang utuh.
Ciri-ciri orang yang berkepribadian utuh antara lain:
Mempunyai kesatuan antara ucapan dan tindakan, di mana mulut berucap di situ tangan berbuat; tidak munafik; selalu autentik, "yang lahir" dan "yang batin" terjadi kecocokan. Tidak mudah bingung, terombang-ambing, dan tidak mudah pula terjebak sikap konformis, mem-beo, dan mem-bebek. Pantang melacurkan nilai-nilai dan prinsip yang diyakini sebagai kehenaran.
Ia menjadi pribadi yang hidup dengan memegang teguh prinsip etis kapanpun dan di manapun ia berada. Tidak mencari-cari persoalan, namun pantang menyerah mana kala harus menghadapinya.
Ia juga terdorong untuk dapat memberi sumbangsih secara positif terhadap lingkungannya.
Lawan dari pribadi yang utuh adalah pribadi yang pecah atau kepribadian ganda. Orang yang mengalami pecah kepribadian atau berkepribadian ganda, bisa menjadi malaikat dan sekaligus iblis pada saat yang sama.
Sosok penuh cinta tetapi sekaligus "drakula". Sosok semacam itu selalu mengalami pertentangan-pertentangan dalam dirinya sendiri.
Akibatnya ia memiliki kepribadian ganda.
Sumber: mailing list
PS: Just for archives
Friday, September 15, 2006
jUsT fOr mE...

Your Thought and Mine
Your thought is a tree rooted deep in the soil of tradition and whose branches grow in the power of continuity. My thought is a cloud moving in the space. It turns into drops which, as they fall, form a brook that sings its way into the sea. Then it rises as vapour into the sky. Your thought is a fortress that neither gale nor the lightning can shake. My thought is a tender leaf that sways in every direction and finds pleasure in its swaying. Your thought is an ancient dogma that cannot change you nor can you change it. My thought is new, and it tests me and I test it morn and eve.
You have your thought and I have mine.
Your thought allows you to believe in the unequal contest of the strong against the weak, and in the tricking of the simple by the subtle ones. My thought creates in me the desire to till the earth with my hoe, and harvest the crops with my sickle, and build my home with stones and mortar, and weave my raiment with woollen and linen threads. Your thought urges you to marry wealth and notability. Mine commends self-reliance. Your thought advocates fame and show. Mine counsels me and implores me to cast aside notoriety and treat it like a grain of sand cast upon the shore of eternity. Your thought instils in your heart arrogance and superiority. Mine plants within me love for peace and the desire for independence. Your thought begets dreams of palaces with furniture of sandalwood studded with jewels, and beds made of twisted silk threads. My thought speaks softly in my ears, “Be clean in body and spirit even if you have nowhere to lay your head.” Your thought makes you aspire to titles and offices. Mine exhorts me to humble service.
You have your thought and I have mine.
Your thought is social science, a religious and political dictionary. Mine is simple axiom. Your thought speaks of the beautiful woman, the ugly, the virtuous, the prostitute, the intelligent, and the stupid. Mine sees in every woman a mother, a sister, or a daughter of every man. The subjects of your thought are thieves, criminals, and assassins. Mine declares that thieves are the creatures of monopoly, criminals are the offspring of tyrants, and assassins are akin to the slain. Your thought describes laws, courts, judges, punishments. Mine explains that when man makes a law, he either violates it or obeys it. If there is a basic law, we are all one before it. He who disdains the mean is himself mean. He who vaunts his scorn of the sinful vaunts his disdain of all humanity. Your thought concerns the skilled, the artist, the intellectual, the philosopher, the priest. Mine speaks of the loving and the affectionate, the sincere, the honest, the forthright, the kindly, and the martyr. Your thought advocates Judaism, Brahmanism, Buddhism, Christianity, and Islam. In my thought there is only one universal religion, whose varied paths are but the fingers of the loving hand of the Supreme Being. In your thought there are the rich, the poor, and the beggared. My thought holds that there are no riches but life; that we are all beggars, and no benefactor exists save life herself.
You have your thought and I have mine.
According to your thought, the greatness of nations lies in their politics, their parties, their conferences, their alliances and treaties. But mine proclaims that the importance of nations lies in work – work in the field, work in the vineyards, work with the loom, work in the tannery, work in the quarry, work in the timberyard, work in the office and in the press. Your thought holds that the glory of the nations is in their heroes. It sings the praises of Rameses, Alexander, Caesar, Hannibal, and Napoleon. But mine claims that the real heroes are Confucius, Lao-Tse, Socrates, Plato, Abi Taleb, El Gazali, Jalal Ed-din-el Roumy, Copernicus, and Pasteur. Your thought sees power in armies, cannons, battleships, submarines, aeroplanes, and poison gas. But mine asserts that power lies in reason, resolution, and truth. No matter how long the tyrant endures, he will be the loser at the end. Your thought differentiates between pragmatist and idealist, between the part and the whole, between the mystic and materialist. Mine realizes that life is one and its weights, measures and tables do not coincide with your weights, measures and tables. He whom you suppose an idealist may be a practical man.
You have your thought and I have mine.
Your thought is interested in ruins and museums, mummies and petrified objects. But mine hovers in the ever-renewed haze and clouds. Your thought is enthroned on skulls. Since you take pride in it, you glorify it too. My thought wanders in the obscure and distant valleys. Your thought trumpets while you dance. Mine prefers the anguish of death to your music and dancing. Your thought is the thought of gossip and false pleasure. Mine is the thought of him who is lost in his own country, of the alien in his own nation, of the solitary among his kinfolk and friends.
You have your thought and I have mine...
(Source : Kahlil Gibran...)
Tuesday, September 05, 2006
TEN KEYS TO HAPPINESS

“Live in the present, for it is the only moment you have.Keep your attention on what is here and now, says Deepak Chopra."
Physical well being is inseparable from emotional well being. Happy people are healthy people. The wisdom traditions of the world tell us that happiness does not depend on what you have, but on who you are. In an era of materialism, it may be worthwhile to reflect on what really creates happiness in us.
The Following ten keys, gleaned from the wisdom traditions, may give us some insight.
1. Listen to your body’s wisdom, which expresses itself through signals of comfort and discomfort. When choosing a certain behaviour, ask your body, “How do you feel about this?” If your body sends a signal of comfort and eagerness, proceed.
2. Live in the present, for it is the only moment you have. Keep your attention on what is here and now; look for the fullness in every moment. Accept what comes to you totally and completely so that you can appreciate it, learn from it, and then let it go. The present is as it should be. It reflects infinite laws of nature that have brought you this exact thought, this exact physical response. This moment is as it is because the universe is as it is. Don’t struggle against the infinite scheme of things; instead, be at one with it.
3. Take time to be silent, to meditate, to calm the internal dialogue. In moments of silence, realize that you are recontacting your source of pure awareness. Pay attention to your inner life so that you can be guided by intuition rather than externally imposed interpretations of what is or is not good for you.
4. Relinquish your need for external approval, You alone are the judge of your worth, and your goal is to discover infinite worth in your self, no matter what anyone else thinks. There is great freedom in this realization.
5. When you find yourself reacting with anger or opposition to any person or circumstance, realize that you are only struggling with yourself, Putting up resistance is the response of defences created by old hurts. When you relinquish this anger, you will be healing yourself and cooperating with the flow of the universe.
6. Know the world “out there”reflects your reality “in here, The people you react to most strongly, whether with love or hate, are projections of your inner world. What you most hate is what you most deny in yourself. What you most love is what you most wish for in yourself. Use the mirror of relationships to guide your evolution. The final goal is total self-knowledge. When you achieve that, what you most want will automatically be there, and what you most dislike will disappear.
7. Shed the burden of judgment, you will feel much lighter. Judgment imposes right and wrong on situations that just are. Everything can be understood and forgiven, but when you judge, you cut off understanding and shut down the process of learning to love. In judging others, you reflect your lack of self-acceptance. Remember that every person you forgive adds to your self-love.
8. Don’t contaminate your body with toxins, either through food, drink, or toxic emotions. Your body is more than a life-support system. It is the vehicle that will carry you on the journey your evolution. The health of every cell directly contributes to your state of well being, because every cell is a point of awareness within the field of awareness that is you.
9. Replace fear-motivated behaviour with love-motivated behaviour, Fear is the product of memory, which dwells in the past. Remembering what hurt us before, we direct our energies towards making certain that an old hurt will not repeat it-self. But trying to impose the past on the present will never wipe out the threat of being heart. That happens only when you find the security of your own being, which is love. Motivated by the truth inside you, you can face any threat because your inner strength is unvulnerable to fear.
10. Understand that the physical world is just a mirror of a deeper intelligence, Intelligence is the invisible organizer of all matter and energy, and since a portion of this intelligence resides in you, you share in the organizing power of the cosmos. Because you are inseparably linked to everything, you cannot afford to foul the planet’s air and water. But at a deeper level, you cannot afford to live with a toxic mind, because every thought makes an impression on the whole field of intelligence. Living in balance and purity is the highest good for you and the Earth.

To use, click on the 



Win-win Negotiation, Anda LINK Blog ini - Aku akan LINK BACK Blog Anda!
Thanks.
:: Join Blogroll in Indonesia::