Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Powered by Blogger

Click to view random flickr photos tagged with my junior and nightview!  

WELCOME to Random Flickr photos tagged with my junior and nightview!
www.flickr.com

www.flickr.com

Tuesday, April 24, 2007

Besemah History-2

This part is continuation from Besemah History-1.

When I posted Besemah History-1, My friend of mind when he commented in this post, asked to me: wah, posting yang menarik neh, baru bagian ke-1 neh...rencananya postingan ini dibuat berapa seri mas Joni...

and i replied to him:
@mashuri: haha.. 2 seri aja.. habis panjang banget, jadi dibuat 2.

so, for you, i cordially request to keep reading this continuation. :D

Tim Penyusun: Marzuki Bedur, A. Bastari Suan, Eka Pascal, dan Arif Nurhayat Permana

METODOLOGI

1. Latar Belakang

Asal-usul suku Besemah yang ditulis oleh Belanda sebagai suku yang “aneh” (merkwaadgste stammen), baik berdasarkan pendekatan kebudayaan (arkeologis) maupun berdasarkan legenda atau mitos Puyang Atung Bungsu, Puyang Diwate, Puyang Singe Bekurung, Puyang Pedane, Puyang Tanjung Lematang, Puyang Riye Lasam, dan puyang lain-lain; serta hubungannya dengan Semende, Kisam, Kikim, Ogan (Semidang Alundua), Semidang Gumay dan Semidang Alas di Bengkulu Selatan dan Palas Besemah di Lampung Selatan, serta terbentuknya/berdirinya dusun-dusun di Besemah.

- Mengapa ada sebutan Besemah yang berbeda-beda, misalnya: ada Besemah Libagh, Besemah Ayik-keghuh, Besemah Ulu Lintang, dan Besemah Ulu Manak dan sebagainya.

- Sebab-sebab terjadinya gerak menyebar suku-suku Besemah.

- Apa yang dimaksud dengan sistem pemerintahan “Lampik Empat Merdike Due”.

- Apa yang dimaksud dengan tugas dan peran orang Besemah sebagai “Sindang Mardike” dan “si Penjaga Batas” dalam hubungannya dengan Kesultanan Palembang.

- Sampai sejauh mana efektivitas pemerintahan Kesultanan Palembang di daerah Besemah dengan sistem pengangkatan raban dan jenang, yang kemudian digantikan dengan kepala-kepala divisi oleh pemerintah Belanda.

- Bagaimana gigihnya perjuangan prajurit-prajurit Besemah dalam mempertahankan daerahnya, seperti yang diperlihatkan dalam perang di Kute Penandingan, Kute Menteralam, Kute-agung, Kute Tebatseghut, dan lain-lain.

- Apakah dasar atau argumentasi sehingga Kota Pagaralam disebut “Kota Perjuangan”.

Berdasarkan uraian di atas, penyusunan sejarah Besemah akan dibuat menjadi beberapa bab. Mudah-mudahan, terbitnya tulisan ini menjadi buku dapat memberikan gambaran yang agak utuh mengenai sejarah asal-usul suku Besemah dan bagaimana perjuangannya dalam mengusir kekuasaan asing (Belanda, Jepang, dan Inggris).

2. Ruang Lingkup Waktu

Ruang lingkup waktu meliputi kurun waktu 1828-1949. Tahun 1828 ditetapkan sebagai awal perjuangan berdasarkan peristiwa orang-orang Besemah, Kisam, Semende, dan Mengkakaw melakukan serangan ke beberapa dusun yang dikuasai Belanda sampai mendekati Gelumbang, sedangkan tahun 1949 ditentukan berdasarkan terjadinya penyerahan kedaulatan atas Indonesia oleh Belanda.

3. Ruang Lingkup Geografis

Wilayah yang menjadi sasaran penelitian adalah eks Kewedanaan Tanah Pasemah yang meliputi empat kecamatan tempo doeloe, yaitu Kecamatan Kota Pagaralam, Kecamatan Kute-agung, Kecamatan Jaray (termasuk Lintang Empat Lawang), dan Kecamatan Tanjungsakti; atau meliputi wilayah utama: Sumbay Besak (Sumbay Besar), Sumbay Ulu Rurah (Sumbay Ulu Lurah), Sumbay Pangkal Lurah yang disebut juga Sumbay Tanjung Ghaye (Sumbay Tanjung Raya), Sumbay Mangku Anum, , Sumbay Penjalang dan Sumbay Semidang. Akan tetapi tidak tertutup kemungkinan untuk menyebut beberapa daerah di luar eks Kewedanaan Tanah Pasemah, asal ada relevansinya dengan peristiwa sejarah perjuangan rakyat Besemah, terutama peristiwa-peristiwa yang terjadi di Kabupaten Lahat atau dari struktur hirarki organisasi militer dengan ibukota Provinsi Sumatera Selatan (Palembang), misalnya dalam pembentukan badan-badan perjuangan, seperti Badan Penjaga Keamanan Rakyat (BPKR), Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselamatan Rakyat (TKR), Tentara Republik Indonesia (TRI), dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

4. Tujuan Penelitian

1) Sejarah suku Besemah pada masa lampau yang ditulis oleh penulis-penulis Belanda sebagai suku yang “aneh’ hampir tidak diketahui oleh masyarakat Besemah sekarang. Oleh karena itu, perlu diungkapkan, meliputi: asal-usul, sifat, watak, dan perilaku, serta daerah geografisnya.

2) Untuk mengetahui mengapa terdapat beberapa sebutan Besemah, seperti Besemah Libagh, Besemah Ulu Manak, Besemah Ulu Lintang, Besemah Ayik Keghuh dan lain-lain.

3) Untuk mengetahui hubungan suku Besemah dengan Kesultanan Palembang, misalnya tentang ketaatannya. Apa yang dimaksud dengan “Sindang Merdike” dan si “Penjaga Batas” yang diberikan kepada suku Besemah.

4) Untuk mengetahui bagaimana heroiknya perlawanan rakyat Besemah pada kurun waktu 1828-1866 yang hanya bersenjata sederhana sanggup melawan Belanda yang bersenjata lebih modern, lebih berpengalaman, dan merupakan tentara reguler.

5) Untuk mengetahui bagaimana penderitaan orang Besemah pada masa pendudukan Jepang, arti penting pendidikan militer Gyugun di Pagaralam, perebutan senjata di Asano Butai Bumiagung, di Gununglilan, di kompleks BPM (Bataafsche Petroleum Maatschapij) Jerambah Beringin, dan Karangdale.

6) Untuk mengetahui bagaimana peranan dan perjuangan rakyat di eks Kewedanan Tanah Besemah, terutama pada waktu Agresi Militer II Belanda yang banyak memakan korban baik jiwa maupun harta. Pada waktu Agresi Militer I, Belanda baru dapat menguasai kota Lahat dan sekitarnya.

5. Manfaat Penelitian

1) Berguna bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang agar mereka menyadari bahwa suku-suku dan sumbay-sumbay Besemah berasal dari keturunan yang sama. Kesadaran ini dapat menghindari pertengkaran atau permusuhan sesama mereka yang mungkin terjadi di masa yang akan datang.

2) Berguna sebagai pewarisan budaya (cultural transmission) yang dapat menjadi perekat guna menghindari disintegrasi eksistensi suku-suku Besemah.

3) Berguna untuk mewariskan jiwa dan nilai patriotisme yang dimiliki masyarakat Besemah yang berjuang pada kurun waktu 1828-1949.

4) Berguna sebagai bahan bahan pengajaran muatan lokal dalam proses belajar-mengajar dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi, terutama di Kota Pagaralam dan di Kabupaten Lahat.

6. Pengumpulan Data

Metode yang digunakan untuk menyusun buku ini adalah metode historis. Metode ini berupa pengumpulan data-data atau sumber-sumber sejarah (sources) yang disebut heuristik. Berdasarkan publikasi yang dikeluarkan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Museum Nasional di Jakarta, ada beberapa sumber yang sangat berguna, yaitu, antara lain:

1) Piagam yang dikeluarkan oleh Sultan Palembang pada abad ke-17 yang ditujukan kepada pengiran-pengiran (pangeran) di Tanah Besemah, seperti kepada Pengiran Tanjungkurung, Pengiran Petani, dan lain-lain, yang ditulis di atas lempengan perak.

2) Manuskrip “Soerat Assal Oerang Mendjadikan Djagat Passoemah” di Museum Pusat dengan nomor kode ML 608 CBR 157 VIII.

3) Manuskrip “Sejarah Pasemah”, dengan nomor kode ML 234.

4) “De Expedetie Tegen de Pasoemah Landen”: Een Uitverige Bechrijving dezer Expedetie.

5) Een Woord over de Pasoemah Expedetie.

6) Lets Betreffende de Verhouding der Pasoemah Landen tot de Sulthans van Palembang, dalam TBB, 1855.

7) R.M. Hens, Het Grandbezit in Zuid Sumatera.

8) Catalougs van Eene Verzameling van Kunstinverheid uit de Hoofdstad Palembang een De Landstreek Pasemah Lebar.

9) Simboer Tjahaja dan Adatrecht Bundel.

10) Oendang-oendang of Verzameling van Voorschriften in de Lematang

Oeloe en Ilir en Pasemah Landen.

11) J.S.G. Gramberg, “Pasemah”.

12) H. Visser, Lets over het Landschap de Pasemah Oloe Manna.

13) Kamil Mahruf, Nanang S. Soetadji, dan Djohan Hanafiah, Sumatera Selatan Melawan Penjajah Abad 19 dan Pasemah Sindang Merdika 1821-1866.

14) Dan lain-lain (Lihat Daftar Pustaka).


Selain itu, digunakan juga sumber-sumber lokal yang ditulis oleh para pejuang setempat yang menulis semacam memoir, catatan-catatan perjuangan atau buku kenang-kenangan yang jumlahnya cukup banyak, misalnya yang ditulis oleh Depati M. Hasyim dusun Pagargading, Agam, Djarab dusun Pelangkendiday, Sjamsoel Bachri Umar (Tatung), Prof. Bakry Hamid, M. Samiri dusun Jentik-an, Hasan Azhari Pagarkaye, Usman Nangtjik, dan lain-lain. Tidak kalah pentingnya apa yang telah ditulis oleh M. Saman Loear, baik dalam bentuk buku maupun dalam bentuk guritan, dan juga sangat penting artinya apa yang telah diusahakan oleh Kapten (purn) Sanaf dusun Karangtanding (Jaray) dan kawan-kawan yang telah menghasilkan 14 jilid buku hasil wawancara dengan tokoh-tokoh pejuang dari berbagai daerah di Sumatera Bagian Selatan (360 tokoh , di antaranya ada yang menyangkut mengenai perjuangan di Kota Pagaralam. Dokumen ini ada di Perpustakaan Monpera (Monumen Perjuangan Rakyat) di Palembang. Khusus untuk Kota Pagaralam dan sekitarnya dilakukan inventarisasi pelaku-pelaku dan saksi-saksi sejarah, kemudian dilakukan interview secara mendalam dengan mendatangi dusun-dusun yang dianggap berperan penting. Jika pelaku dan saksi sejarah telah meninggal, interview dilakukan terhadap keluarga terdekat, sekaligus meminta dokumentasi foto-foto. Interview dilakukan secara simultan melalui pertemuan/rapat atau semacam lokakarya yang diselenggarakan pemerintah Kota dan Legiun Veteran Kota Pagaralam. Selain itu, dibuat dokumentasi berupa foto-foto di tempat-tempat bersejarah dan foto-foto para pelaku atau saksi sejarah.

7. Landasan Pendekatan dan Teori yang Dipergunakan

Pendekatan yang digunakan adalah adalah pendekatan multidimensional (antropologis, sosiologis, dan politis). Pendekatan antropologis, terutama antropologi budaya, dapat digolongkan menurut pendekatan-pendekatan khusus yang ada dalam sub-sub disiplin dari antropologi, misalnya: (1) antropologi prasejarah; (2) antropologi bahasa, dan (3) etnologi yang dapat dibagi menjadi dua, yaitu pendekatan diakronik dan pendekatan sinkronik (Beals, 1953:173-176). Pendekatan diakronik bertujuan untuk mencapai pengertian mengenai kebudayaan suatu suku bangsa atau bangsa dengan meneliti asal mulanya, sejarah persebarannya, dan perkembangannya. Sedangkan pendekatan sinkronik dipakai untuk melihat mitos asal-usul suku Besemah. Untuk mengetahui asal-usul dan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi, yang tidak terdapat dalam sumber-sumber tertulis, digunakan metode wawancara geneologis (Koentjaraningrat, 1984:6).

Selain pendekatan antropologis, tulisan ini juga mempergunakan pendekatan sosiologis dan politis. Pendekatan sosiologi yang menggunakan konsep-konsep atau teori-teori sosiologis diperlukan, terutama dalam kaitannya dengan analisis mengenai perubahan struktur dan fungsi suatu sistem sosial (Garne, 1977:19; Appelbaum, 1970:49) yang diakibatkan oleh masuknya pengaruh Belanda di daerah pedalaman Besemah (Malinowski, 1966:11-12). Bersama-sama dengan pendekatan politis dicoba pula untuk mengetahui sampai sejauh mana kekuasaan yang dimiliki oleh elit tradisionalnya (kepala sumbay).

Perubahan struktur masyarakat menyangkut perubahan status golongan sosial, menimbulkan pergeseran peran, serta fungsi dari lembaga-lembaga lama ke lembaga-lembaga yang baru. Elit tradisional merasa terancam perannya dalam masyarakat. Lembaga-lembaga lama semakin tidak berfungsi. Status “Sindang Merdike” yang sejak lama dimiliki oleh orang-orang Besemah menjadi terancam. Padahal status ini menyangkut harga diri mereka yang sangat mendalam, terutama bagi elit tradisionalnya. Beberapa besarkah power atau authority (Soemardi, 1962:359-360) yang dimiliki oleh raja/sultan dari Kesultanan Palembang terhadap kepala-kepala sumbay di Besemah.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik. 1974. Sejarah Lokal di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,

Agus, Ali. 1978. “Batalion XVI STP”. Catatan Pribadi. Palembang

Alam, Asnawi Mangku. 1997. Kesan dan Pesan. Jakarta: Indah Mas

_______. 1985. Perang Kota 120 Jam Rakyat Palembang. Jakarta: PT Grapitas

_______. 1992. Pasca Perang Kota Palembang. Jakarta: PT. Inspirasi

_______. 1999. Buku Putih Mengenai Kemurnian Perjuangan Kemerdekaan di Sumatera Selatan. Jakarta: Tanpa Nama Penerbit.

Amin, Ali. 1998. Kesan-Kesan Dalam Kehidupan Dan Dalam Berkarya : Pengalaman Pegawai Tiga Zaman. Palembang: Pemda Sumsel.

As’ad Djamiri. 1979. Ikhtisar Sejarah Perjuangan ABRI (1945-sekarang). Jakarta: Departeman Pertahanan-keamanan Pusat Sjarah ABRI.

Bos, F.R. dan J.F. Niermeyer.1947. Schoolatlas der Gehele Aarde. Groningen, Batavia: J.B. Wolters’ Uitgeversmaatschappij N.V

Bangun, Payung dan RZ Leirissa. 1996. Berbagai Tanggapan dan Komentar Mass Media Tantang Kolonel M. Simbolon. Jakarta: Yayasan Bina Bangsa Indonesia.

_______. 1996. Kolonel Maludin Simbolon Liku-liku Perjuangannya dalam Membangun Bangsa. Pustaka Sinar Harapan.

Disjarah TNI-AL. 1970. Sejarah TNI-AL 1945-1950. Jakarta: Disjarah TNI-AL.

Dim. Moehammad. 2001. Kronologis BPKR-TKR-TRI-TNI dai Lahat (II)., (Catatan Pribadi).

Dim. Ali Kasim, dkk. “Pagaralam di Lembah Gunung Dempo dan Lahat di Hamparan Bukit Serelo adalah Kota Embrio dan Cikal Bakal Angkatan Perang Republik Indonesia Dengan Kobar Juangnya”. Lahat, 1992, (Catatan Pribadi)

Djarab, Hendarmin. 1999. Lima Puluh Tahun Perkawinan Emas Kol. Purn H. Djarab dan Ibu Hj. Rosminah. Jakarta: Tanpa Nama Penerbit,

Djusse M. 2001. “Sejarah Perjuangan TNI dan Rakyat didaerah Pagar Gunung Lahat pada Tahun 1945 dan Gerilya Tahun 1949”. Lahat, (Catatan Pribadi).

Effendi, Danny. 1973. Gema Perang Rakyat di Sumatera Selatan 1945-1949. Jakarta Tanpa Nama Penerbit.

Emmerson, Donnald K. 1976. Indonesia Elite. London : Cornell University Press.

Fredrick, William H. dan Soeri Soerato. 1982. Pemahaman Sejarah Indonesia. Jakarta: PT Djaya Pirusa.

Gani, Ruslan Abdul. 1963.Penggunaan Ilmu Sejarah. Bandung: Prapanca.

Garrdinner, Patrick, 1965. The Nature of Historical Explanation. London :Oxford Unipersity Press,

Gde Agung, Ide Anak Agung. 1983. Renville, Jakarta: Sinar Harapan.

Hugiono dan RK Peorwantana. 1993. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Ismail, Hatta. Berdayung di Tegah Riak Gelombang kehidupan. Palembang: Unanti Press, 2001.

______. 2002. “Pelajar Pejuang /Tentara Pelajar Sumatera Bagian Selatan Tahun 1948 di Tanjung Karang. Palembang” (Catatan Pribadi).

Karma, Mara. 2001. Ibnu Sitowo Mengemban Missi Revolusi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,

Kamal, Murni. 1986. Historis Lembaga Pendidikan Taruna Opsir Muda Dari Sumatera Bagian Selatan di Palembang. Palembang ( Catatan Pribadi).

Kartodirdjo, Sartono. Beberapa Masalah Teori dan Metodoliogi sejarah, jilid 7. Yogyakarta Fakultas Sastra Kebudayaan Universitas gajah Mada, 1970.

_______. Pemikiran dan Pengembangan Hostoriografi Indonesia Skala Alternatif. Jakarta: PT Gramedia, 1982

Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah. Yokyakarta, Rineka Cipta, 1995.

Pemerintah Kota Pagaralam. 2003. Selayang Pandang Pembangunan Kota Pagaralam

Mahruff, Kamil, dkk. Pasemah Sindang Merdika. 1921-1966. Jakarta : Pustaka Asri, 1999.

Mayerhoff, Hans. (Ed), The Philosophy of History in Our Time. New York:Alfred A Knooft,1950,

Nahwi, Ahmad. Perjuangan Sub Komandemen Sumatera Selatan (Subkoss) Garuda Srwijaya. Lubuk Linggau, Perwakilan Yayasan Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya, 1992.

Nangtjik,Oesman dan iskandar Gani. dr AK. Gani Pejuang yang Berwawasan Sipil dan Militer. Jakarat: PT. Multi Harun, 1990.

Nasution, abdul Haris. Tentara Nasional Indonesia. Bandung: Ganaco NV, 1963.

Pokok-pokok Gerilya dan Pertahanan RI di Masa Yang Lalu dan Yang Akan Datang. Bandung: Angkasa, 1980.

Ratu Perwiranegara, Alamsyah. Perjuangan Kemerdikaan di Sumatera Selatan 1945-1950. Jakarta: Tanpa Nama Penerbit,1987.

Said, Abi Hasan.Bumi Sriwijaya Bersimbah Darah. Jakarta: PT. Mampang Indah Pratama. Yayasan Krama Yudha,1991.

Loear, M. Saman, Guritan Jagat Besemah. Pagaralam: Elca, 1972.

Sardjono, V DAN GL Marsadji. Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI)

Penyelamat Negara dan Bangsa Indonesia. Jakarta: Tintamas Indonisia 1982.

Sidik, Jafri. Sekelumit Pengalaman Perjuangaan Kemerdekaan Repubelik Indonesia di Sumbagsel. Bengkulu, 2001(Catatan Pribadi ).

Suetardji, Nanang S. Sumatra Selatan Melawan Penjajah abad 19. Jakarta: Millenium Publisher PT. Dyatama Millenia, 2000.

Suparman, dkk. H.Alamsah Ratu Perwira Negara Perjalanan Hidup Seorang Anak Yatim Piatu. Jakarta: Sinar Harapan, 1995.

Suwondo, S. Purbo, dkk. Tentara Sukarela Pembela Tanah Air di Jawa dan Sumatera 1942-1945. Jakarta: Pustaka Sinar harapan, 1996.

Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Invertarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional,

1992. Team Kodam IV/Srwijaya. Sejarah Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang Tanggal I – 5 Januari 1947. Pelembang: Komando Wilayah Pertahanan I Kodam IV Sriwijaya, 1982.

Umar, Sjamsul Bachri. Gugurnya Seorang Pahlawan di Kaki Gunung Dempo Pada Waktu Merebut Kekuasaan Dengan Tentara Jepang. Palembang:, 1965b(Catatan Pribadi).

______. Tanjung Sakti Salah Satu Daerah RI Yang Tidak Dimasuki Oleh Tentara Belanda. Palembang, 2000. ( Catatan Pribadi).

______. Sejarah Singkat Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia 1945-1950. Lahat, 2002.(Catatan Pribadi).

Veeger J Karel. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993.

Walsh, W. H. Meaning in History dalam Patrick Gardener Theories of History. New York: The Freee Press, 1959.

Anoname. Sejarah Perjuangan Kemerdekaan 1945-1949 di Kabupaten Lahat. Lahat: Pemerintahan Kabupaten Lahat, 2000.

______. Sejarah Perjuangan Rakyat Sumatera Bagian Selatan Pada Masa Revolusi

Kemerdekaan Tahun 1945-1950. Palembang; Pemerintah I Sumatera Selatan, 1986.

______. Pesan dan Kesan dalam Mempringati Hari Jadi I Yayasan Pejuangan

Subkoss Garuda Sriwijaya. Musi Rawas: Yayasan Perjuangan Subkoss Garuda 1989.

______. Sejarah Perang Kemerdekaan di Sumatera 1945-1950. Jakarta: dinas Sejarah TNI Angkatan Darat 1972.

______. Mengenang Perjuangan SUBKOSS Garuda dalam Membela Kemerdekaan. Lubuk Linggau : Yayasan Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya, 1988.

______. Sejarah perang Kemerdekaan di Sumatera 1945-1950. Medan : Dinas Sejarah Kodam II Bikit Barisan, 1994.

______. Kenangan Tiaga Puluh Komando Militer IV Sriwijaya. Palembang;sejarah Militer IV Sriwijaya 1975.

______. Republik Indonesia Provinsi Sumatera Selatan. Palembang: Jawatan Penerangan, 1954.

______. Data Perjuangan Rakyat Sumbangsel. Palembang: Yayasan Bhakti Pejuang 1986.

______. Sejarah Perkembangan Pemerintah di Daerah Sumatera Selatan. Palembang : Pemda TK. I. Sumsel, 1996.

______. Undang-undang Simbur Tjahaja. Palembang : Badan Penerbit Suara Rakyat. 1970.


PS: Only for archives. :)

25 comments:

Nieke,, said...

horeee.. akhirnyaaaa, setelah sekian lama cuti dari blognya om Joni, akhirnya dapet kehormatan jd komentator pertama. hehe.. wah wah, infonya lengkap banged nih om. referensinya lengkap banged. om joni TOP banged dah nagsih info ga pernah nanggung2 ;) ga salah donk ama "predikat" pialanya. hehe :D

soal Basemah, unfortunately aku agak ketinggalan neyh "nyimak" episode 1 nya. jd sempet ga ngerti awal2nya.. tp pas dibaca2 ngerti juga. yg paling aku salutkan sama perjuangan mereka untuk membela sukunya.. ga nyangka masih ada pejuang2 yg mau seperti itu :)

btw, kalo ada waktu, ikutan polling banner piala kemenangan Nona Nieke,, Blog "Award" di blogku ya om, makasih :) << skalian iklan neyh? :D

Mashuri said...

#Jhoni
he...he....awalnya saya curiga ini bagian pendahuluan tesis-nya Mas Jhoni. Siapa tau khan, mo neliti "tata air" suku Basemah...

#Nieke
katanya UTS, koq nongol di sini?

Joni Poetra said...

@nieke: thanks atas komennya ya niek, ya nanti gw ikutan polling banner piala kemenangannya. :)

@mashuri: hehehe.. ya, siapa tahu nanti ditugasin untuk pulang kampung.

ooo.. nieke lagi UTS? refreshing bentar mungkin mas.. :D

Mama Rafi said...

wah critanya pjg n lgkp bgt, prasaan jaman sekolah dl sy blm pernah dgr ttg suku basemah ato karena sy suka tidur ya pas pelajaran sejarah :( selaku org sumsel jd minder neh..
maaf jilid 1 blm sempet baca cm liat sepintas ada jeme2nya brarti basemah nenek moyangnya "jeme kaba" ya om?:D

Joni Poetra said...

@mama rafi: ya, memang pelajaran sejarah waktu sekolah dulu, belum ada ttg sejarah masyarakat besemah, baru sekarang berusaha digali kembali dan dicari bahan-bahan tulisannya, agar masyarakat besemah lebih dikenal secara nasional. Orang sumsel aja ga tahu ttg sejarah besemah apalagi orang luar sumsel? :P

ya, betul.. nenek moyangnya 'jeme kaba'.

- Nilla - said...

Uhmmmm...


*si Nilla lg sibuk baca...*


Aku jg belum baca yg pertamanya! :(

Joni Poetra said...

@nilla: hehehe.. keliatan bingung mo komen apa.. :P

NiLA Obsidian said...

duh om joni teh hebat pisan euy....rajin pisan ngumpulin data.....
tx buat infonya ya om

Joni Poetra said...

@nila obsidian: maksudnya sekalian ngarsip jeng. :)

Obat Tradisional Kanker Otak said...

makasih infonya

Obat Tradisional Diabetes Melitus said...


semoga sukses selalu

Obat Tradisional Kanker Serviks said...

Salam kenal dan sukses selalu

Obat Tradisional Glaukoma said...

infonya sangat bermanfaat sekali

Obat Tradisional Penyakit Kanker Otak said...

thank's infonya

Obat Tradisional Penyakit Liver said...

Ikut gabung sisni ea

Obat Tradisional Penyakit Patah Tulang said...

sukses terus ea

Obat Tradisional Penyakit Kanker Serviks said...

jangan lupa mampir balik ya gan

Obat Tradisional Luka Bakar said...

makasih infonya

Obat Tradisional Darah Tinggi said...

semoga sukses selalu

Obat Tradisional Liver Empedu said...

Salam kenal dan sukses selalu

Obat Tradisional Kanker Hati said...

infonya sangat bermanfaat sekali

Obat Tradisional Penyakit Asam Urat said...

thank's infonya

Obat Tradisional Penyakit Keputihan said...

Ikut gabung sisni ea

Obat Tradisional Penyakit Sakit Pinggang said...

sukses terus ea

Obat Tradisional Penyakit Jantung Koroner said...

jangan lupa mampir balik ya gan